Invasi Kera Ekor Panjang di Gunungkidul Menyebar di 9 Kapanewon
Koordinator Pengendali Organisme Pengganggu Tanaman (POPT), DPP Gunungkidul, Jayadi mengungkapkan ada 9 kapanewon yang lahan pertaniannya terdampak.
Penulis: Alexander Aprita | Editor: Hari Susmayanti
TRIBUNJOGJA.COM, GUNUNGKIDUL - Dinas Pertanian dan Pangan (DPP) Gunungkidul mencatat hampir separuh wilayah terdampak invasi kera ekor panjang.
Upaya penanganan pun menemui kesulitan karena terbentur aturan.
Koordinator Pengendali Organisme Pengganggu Tanaman (POPT), DPP Gunungkidul, Jayadi mengungkapkan ada 9 kapanewon yang lahan pertaniannya terdampak.
"Kebetulan habitat kera ekor panjang berada di 9 kapanewon ini," jelasnya dihubungi pada Minggu (10/04/2022).
Jayadi mengatakan sebagian besar habitat primata ini berada sisi selatan, mulai dari Purwosari, Panggang, Saptosari, Tanjungsari, Tepus, dan Girisubo. Lainnya adalah Paliyan, Semin, dan Ponjong.
Menurutnya, upaya penanganan kera ekor panjang sulit lantaran hewan ini berstatus dilindungi selama berada di habitatnya.
Sedangkan populasinya terus mengalami peningkatan, sehingga tak sebanding dengan upaya pengurangan.
"Paling masuk akal sebenarnya pengurangan populasi, namun dari BKSDA (Balai Konservasi Sumber Daya Alam) tidak merekomendasikan itu," ungkap Jayadi.
Baca juga: DPP Gunungkidul Kaji Upaya Penanganan Serangan Kera Ekor Panjang
Baca juga: Seekor Kera Ekor Panjang yang Teror Warga Kalikotes Diciduk Tim Animal Rescue Damkar Klaten
Lantaran tidak bisa dikurangi, maka upaya yang sejauh ini bisa dilakukan adalah menghalau kawanan kera dari lahan pertanian. Cara ini juga dinilai lebih hemat biaya untuk para petani.
Jayadi pun menyebut DPP Gunungkidul juga menjadi "korban" lantaran lahan pertaniannya terdampak invasi kera. Meski demikian, ia menyebut tingkat dampak kerusakannya masih wajar.
"Info dari petugas POPT Tepus, kerusakan yang ada tidak separah seperti yang dilaporkan petani," katanya.
Kepala DPP Gunungkidul Rismiyadi sebelumnya juga mengakui bahwa upaya penanganan kera ekor panjang terbatas. Sebab BKSDA tidak menganjurkan cara represif seperti pengurangan populasi.
Alhasil, upaya yang sejauh ini bisa dilakukan hanya menghalau. Namun pihaknya juga menyiapkan upaya bersifat jangka panjang agar kawanan kera tidak menjarah tanaman petani.
"Antara lain program penanaman pohon buah yang jadi makanan kera di beberapa lokasi," ujar Rismiyadi.(Tribunjogja)