DPP Gunungkidul Kaji Upaya Penanganan Serangan Kera Ekor Panjang

Kepala DPP Gunungkidul Rismiyadi mengatakan pergerakan kera ekor panjang saat ini terkesan masif dan luas. Terutama ke lahan pertanian.

Penulis: Alexander Aprita | Editor: Muhammad Fatoni
TRIBUN JOGJA/Istimewa
Seekor kera ekor panjang melintas di jalanan wilayah Kalurahan Purwodadi, Tepus, Gunungkidul belum lama ini. Warga setempat mengeluhkan serangan kera ekor panjang yang diklaim lebih masif di tahun ini. 

TRIBUNJOGJA.COM, GUNUNGKIDUL - Dinas Pertanian dan Pangan (DPP) tengah mengkaji upaya penanganan serangan kera ekor panjang pada lahan pertanian milik warga. Pasalnya, serangan dari hewan jenis primata ini disebut kian tinggi.

Kepala DPP Gunungkidul Rismiyadi mengatakan pergerakan kera ekor panjang saat ini terkesan masif dan luas. Terutama ke lahan pertanian.

"Namun upaya pengendaliannya juga terbatas," katanya, Minggu (03/04/2022).

Menurut Rismiyadi, pihaknya juga sudah berkoordinasi dengan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA).

Koordinasi diperlukan agar ada langkah penanganan yang tepat untuk serangan hewan liar tersebut.

Meski demikian, BKSDA tidak menyarankan penanganan secara represif terhadap kera ekor panjang. Cara represif yang dimaksud seperti mengurangi populasi hewan ini.

"Namun BKSDA tidak menganjurkan sehingga yang bisa dilakukan sekedar menghalau," jelas Rismiyadi.

Ia mengatakan upaya menghalau ini merupakan upaya jangka pendek.

Caranya dengan menakuti atau mengusir kawanan kera agar tidak menjarah lahan warga.

Pihaknya pun juga menyiapkan langkah jangka menengah dan panjang.

Rismiyadi mengatakan langkah jangka menengah adalah dengan upaya penangkapan, yang kini sedang dikonsultasikan dengan pihak terkait.

"Sedangkan untuk jangka panjangnya tengah disiapkan program penanaman buah di beberapa lokasi," ujarnya.

Penanaman pohon buah bertujuan agar kawanan kera mengambil makanan dari tempat yang disediakan. Sehingga tanaman pangan milik warga pun aman dari serangan.

Serangan kera ekor panjang saat ini tengah dikeluhkan warga.

Salah satunya Marsito, petani asal Pedukuhan Gesing, Kalurahan Purwodadi, Tepus.

Halaman
12
Sumber: Tribun Jogja
Berita Terkait
  • Ikuti kami di
    AA

    Berita Terkini

    © 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved