Berita Kriminal Hari Ini

Kekerasan antar Pelajar Terjadi di Gedongkuning, Ini Analisis Pakar Sosiologi UWM

Dalam kasus kekerasan di Gedongkuning , kelompok pelaku kekerasan dan rombongan korban memandang masing-masing grup sebagai musuh.

Penulis: Ardhike Indah | Editor: Gaya Lufityanti
TRIBUNJOGJA.COM / Suluh
Ilustrasi 

“Kekerasan pelajar ini masalah bersama. Sehingga, perlu dipikirkan bersama,” katanya.

Satu di antara regulasi yang bisa diadopsi adalah adanya jam malam bagi remaja untuk tidak keluar rumah pada periode tertentu.

Itu dinilai bisa sedikit membantu menekan aksi kekerasan antar pelajar

“Sepintas kebijakan ini kontraproduktif bagi kegiatan pariwisata, dan bisnis kuliner malam hari, tapi itu bisa diberlakukan secara temporal dan area lokal pada setiap RW,” jawabnya.

Baca juga: Penjelasan Kapolres Kulonprogo Soal Tawuran Perang Sarung yang Melibatkan Pelajar

RW yang patut menjadi perhatian adalah wilayah yang berpotensi terdapat kasus kekerasan

Kebijakan ini, katanya, bisa dikelola oleh simbol keamanan negara pada level kecamatan atau kemantren, polisi sektor, yamg bekerjasama dengan pengurus RW hingga RT.

“Orangtua juga bisa memperlakukan jam malam bagi anak-anaknya. Batas waktu anak-anak mereka keluar rumah maksimal pukul 21.00, misalnya,” paparnya.

Pada level sekolah, dilanjutkannya, gerakan modal bisa dilakukan dengan tugas membaca buku-buku anti kekerasan dan mendiskusikan secara terbuka di dalam kelas atau dalam forum antikekerasan.

“Sekolah juga perlu membentuk satgas antikekerasan untuk mencegah bibit kekerasan ini berkembang lebih besar dan menjadi malapetaka,” tukasnya. ( Tribunjogja.com )

Sumber: Tribun Jogja
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved