Perang Rusia Ukraina
Presiden Biden Enggan Meminta Maaf Telah Menyebut Putin Jagal dan Penjahat Perang
Beberapa waktu belakangan, Presiden Amerika Serikat, Joe Biden menyebut Presiden Rusia, Vladimir Putin sebagai jagal dan penjahat perang.
Penulis: Bunga Kartikasari | Editor: Muhammad Fatoni
TRIBUNJOGJA.COM - Beberapa waktu belakangan, Presiden Amerika Serikat, Joe Biden menyebut Presiden Rusia, Vladimir Putin sebagai jagal dan penjahat perang.
Ia sempat mengatakan bahwa Putin adalah penjahat perang pada 17 Maret 2022 di Gedung Putih. Kemudian, ia mengungkapkan bahwa Putin adalah jagal atau pembantai pada 26 Maret 2022 saat dirinya berada di Warsawa, Polandia.
Kedatangannya ke Warsawa adalah untuk menengok para pengungsi dari Ukraina yang kawasannya dihabisi oleh militer Rusia.
Pernyataannya itu dikhawatirkan menimbulkan perang yang tidak penting terjadi antara Amerika Serikat.
Tidak dua kata itu saja yang dilontarkan Biden. Di saat dirinya berkata bahwa Putin adalah penjahat perang, dia juga menyematkan titel baru untuk Putin, yakni diktator pembunuh.
Biden pun enggan meminta maaf telah mengatakan Putin seperti itu.
Presiden Biden pada hari Senin, 28 Maret 2022, mempertahankan komentarnya bahwa Vladimir Putin tidak boleh tetap menjadi presiden Rusia.
Dia mengatakan itu adalah ekspresi kengeriannya sendiri atas invasi ke Ukraina dan bukan perubahan dalam kebijakan Amerika yang bertujuan untuk menyingkirkan Putin dari kantor.
“Saya mengungkapkan kemarahan moral yang saya rasakan, dan saya tidak meminta maaf untuk itu,” kata Biden kepada wartawan di Gedung Putih.
Baca juga: Perang Rusia Ukraina: Rusia Sita Rudal Antitank Javelin Kiriman NATO
Biden seolah-olah menolak kritik dari seluruh dunia dalam dua hari terakhir tentang potensi konsekuensi diplomatik dari kata-katanya.
Presiden mengatakan tidak ada yang seharusnya menafsirkan komentarnya sebagai seruan untuk penggulingan Putin.
"Ini konyol," katanya tentang pertanyaan tentang pidatonya di Warsawa pada hari Sabtu 26 Maret 2022.
"Demi Tuhan, orang ini tidak bisa tetap berkuasa. Tidak ada yang percaya saya berbicara tentang menjatuhkan Putin. Tidak ada yang percaya itu,” bebernya.
Barat juga harus memutuskan apakah Moskow akan diizinkan kembali ke ekonomi global.
Mereka juga perlu memutuskan apakah mereka akan mencabut sanksi dan bagaimana melanjutkan hubungan diplomatik jika Rusia menarik kembali pasukannya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/Presiden-Rusia-Vladimir-Putin-bersama-Presiden-Amerika-Serikat-Joe-Biden.jpg)