Menkes Budi: Negara G20 Harus Lakukan Riset Tuberkulosis Berkelanjutan
G20 juga perlu mendorong lebih kuat untuk penyediaan vaksin TB yang terbaru.
Penulis: Ardhike Indah | Editor: Hari Susmayanti
TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Tuberkulosis atau TB masih menjadi momok di dunia, termasuk Indonesia.
Dari fakta yang didapat Kementerian Kesehatan (Kemenkes), TB menjadi pembunuh menular kedua di dunia setelah Covid-19, membunuh sekitar 4.100 orang setiap harinya.
Untuk itu, Menteri Kesehatan (Menkes), Budi Gunadi Sadikin mengatakan, Indonesia dan anggota G20 harus melakukan riset TB secara berkelanjutan untuk mensukseskan program dunia bebas TB di tahun 2030.
Dalam kerangka Presidensi G20 tahun ini, kata Budi, Indonesia mempromosikan penguatan arsitektur kesehatan global. Indonesia juga menganjurkan dikembalikannya penerapan layanan TB melalui tiga langkah.
“Kita butuh investasi yang cukup dan berkelanjutan, berkaitan dengan peningkatan kapasitas untuk transfer teknologi, vaksin yang lebih baik, terapeutik, dan diagnosa untuk TB,” ungkapnya dalam G20 Side Event on Financing for TB Response berjudul ‘Overcoming Covid-19 Disruption and Building Future Pandemic Preparedness’ di Hyatt Regency Yogyakarta, Selasa (29/3/2022).
Budi melanjutkan, melihat bagaimana dunia mengusahakan vaksin, diagnosa dan terapeutik untuk Covid-19, G20 juga perlu mendorong lebih kuat untuk penyediaan vaksin TB yang terbaru.
Ia mengatakan, TB adalah penyakit yang bisa dicegah dan disembuhkan sepenuhnya dengan cara meningkatkan jejaring kolaboratif dan relasi multilateral.
Dengan adanya kemitraan multilateral, dunia bisa membuat sistem diagnosa, terapeutik, vaksin dan surveilans untuk TB yang lebih baik dan cepat.
“Kita juga harus meningkatkan sistem manajemen informasi kesehatan dan surveilans untuk TB. Surveilans digital dan case-based TB memiliki beberapa keuntungan daripada laporan tradisional,” jelasnya.
Sistem tersebut termasuk memungkinkan penggunaan pemeriksaan akses kolektif data otomatis, tepat waktu dan ketersediaan data tingkat individu untuk orang dengan infeksi atau penyakit TB.
Baca juga: Penyelenggaraan G20 di Yogyakarta Dongkrak Okupansi Kamar Hotel Hingga 20 Persen
Baca juga: Side Event G20, Kemenkes RI Bakal Bahas Disrupsi Tuberkulosis di Yogyakarta
“Selain itu, kita juga harus meningkatkan obat baru, diagnostik baru, pengobatan singkat, formulasi pediatrik, pengobatan dan pencegahan TB dengan pendekatan inovatif yang berdampak maksimal,” tuturnya.
Ia berharap, dengan usaha yang maksimal, dunia bisa bebas TB di tahun 2030 nanti.
Sementara, Direktorat Jenderal (Dirjen) World Health Organization (WHO) Tedros Adhanom Ghebreyesus mengatakan TB telah membunuh lebih dari 1,5 juta orang di dunia setiap tahun.
“Kami telah mendapatkan kemajuan yang menggembirakan secara global. Lebih dari 66 juta orang telah menerima akses layanan TB sejak tahun 2000. Sayangnya, tantangan masih tetap ada,” terangnya dalam video yang diputar di acara.
Ia melanjutkan, Covid-19 telah membalikkan kemajuan meminimalisasi TB bertahun-tahun dengan gangguan pada setiap layanan yang berfokus pada TB.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/Menkes-Budi-Gunadi-Sadikin-Ajak-UGM-Berpartisipasi-di-Proses-100-Hari-Pembuatan-Vaksinasi-Global.jpg)