Berita Bisnis Terkini

PLN Optimis Bisa Capai Bauran EBT 23 Persen pada 2025, Dirut Darmawan: Inovasi akan Menang

Perusahaan Listrik Negara ( PLN  ) memastikan pihaknya akan mendukung pengembangan Energi Baru Terbarukan (EBT) di Indonesia.

Penulis: Ardhike Indah | Editor: Gaya Lufityanti
istimewa
Seminar internasional ‘Renewable Energy Technology as Driver for Indonesia’s De-Dieselization’ diselenggarakan di Royal Ambarrukmo Hotel, Rabu (23/3/2022). 

Laporan Reporter Tribun Jogja, Ardhike Indah

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Perusahaan Listrik Negara ( PLN  ) memastikan pihaknya akan mendukung pengembangan Energi Baru Terbarukan (EBT) di Indonesia.

Bahkan, PLN optimis bisa mencapai bauran EBT sebanyak 23 persen di tahun 2025 sekaligus mengurangi kegunaan bahan bakar impor serta mengeksplor potensi energi lokal.

“Bumi ini memanas. Masa depan umat manusia akan rentan dan hari ini, kita memastikan bahwa generasi yang akan datang bakal memiliki masa depan yang lebih baik dari yang sekarang,” buka Direktur Utama PLN , Darmawan Prasodjo .

Ia mengatakan hal tersebut dalam seminar internasional bertajuk ‘Renewable Energy Technology as Driver for Indonesia’s De-Dieselization’ yang diselenggarakan di Royal Ambarrukmo Hotel, Rabu (23/3/2022).

Baca juga: Menteri ESDM: Program Dedieselisasi PLN Kunci RI Capai Net Zero Emission pada 2060

Diketahui, acara tersebut merupakan rangkaian kegiatan Energy Transitions Working Group (ETWG) 1, Presiden G20 di Indonesia.

Agenda itu juga dihadiri oleh Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Arifin Tasrif.

Dia melanjutkan, PLN bakal mengurangi emisi karbondioksida dengan memanfaatkan Energi Baru Terbarukan (EBT).

“PLN berkomitmen penuh untuk melakukannya. Hanya, kami memang mengalami dilema. Kalau kita ingin energi murah, maka itu pasti kotor. Kalau kita ingin pakai energi bersih, itu pasti mahal,” jelasnya.

Akan tetapi, Darmawan meyakini bahwa inovasi bisa menjadi salah satu cara agar energi baru terbarukan bisa menjadi lebih murah.

“Inovasi akan menang. Sekarang, kesulitannya mulai dieliminasi, misalnya dengan penggunaan baterai di kendaraan untuk mengganti bahan bakar fosil,” katanya.

Dia menerangkan, harga baterai untuk pembangkit tenaga atau battery energy storage system (BESS) di masa kini lebih ekonomis dibanding dulu.

Di tahun 2017, harga BESS bisa mencapai 50 sen per kwh. Kemudian, di tahun sekarang, harga BESS hanya 13 sen per kwh.

“Ada penurunan kurang lebih 80 persen. Ini adalah bukti manusia selalu berinovasi. Kalau kita teruskan tren ini ke 5 tahun ke depan, bisa saja BESS besok harganya 4-5 sen per kwh. Itu adalah disrupsi berbasis inovasi,” terangnya.

Baca juga: PLN Siapkan Listrik Zero Down Time Saat Penyelenggaraan ETWG G20 di Jateng dan DIY

Darmawan melanjutkan, pembangkit listrik telah menyumbang 260 juta ton emisi karbondioksida per tahun.

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved