Differentiated Instruction Sebagai Pembelajaran yang Memerdekakan Siswa

Hal ini dapat menyebabkan minat belajar rendah, hingaga berimplikasi pada rendahnya hasil belajar siswa.

Tribunjogja/Alexander Ermando
Ilustrasi 
Rino Richardo, S.Pd., M.Pd., Dosen Universitas Alma Ata
Rino Richardo, S.Pd., M.Pd., Dosen Universitas Alma Ata (Ist)

 

*Oleh : Rino Richardo, S.Pd., M.Pd., Dosen Universitas Alma Ata

TOKOH Pendidikan Indonesia Ki Hadjar Dewantara menyampaikan bahwa konsep pendidikan yang baik yaitu menitikberatkan pada kemandirian dan keluwesan dalam menggali potensi maksimal yang dimiliki oleh peserta didik, karena secara fitrahnya setiap peserta didik memiliki keterampilan dan potensi yang beragam.

Namun, umumnya pembelajaran yang dirancang belum berlandaskan pada kebutuhan dan keragaman masing-masing peserta didik. Padahal, setiap individu memiliki karakteristik, kebutuhan belajar, gaya belajar, kemampuan awal serta minat yang beragam. 

Hal ini dapat menyebabkan minat belajar rendah, hingaga berimplikasi pada rendahnya hasil belajar siswa. 

Dalam sebuah kesempatan, Mas Menteri Nadim Makarim pernah menyampaikan bahwa Merdeka Belajar merupakan konsep yang dibuat agar siswa bisa mendalami minat dan bakatnya masing-masing. 

Sehingga ketika ada dua anak yang memiliki minat atau gaya belajar yang berbeda, maka guru dapat memfasilitasi proses pembelajaran, konten materi, hingga produk penilaian yang berbeda pula. Sehingga Differentiated Instruction (Pembelajaran Berdiferensiasi) dapat menjadi alternatif solusi. 

Pembelajaran berdiferensiasi haruslah berakar pada pemenuhan kebutuhan belajar murid dan bagaimana guru merespon kebutuhan belajar tersebut. Tomlinson (2001) dalam bukunya yang berjudul How to Differentiate Instruction in Mixed Ability Classroom menyampaikan bahwa kita dapat mengkategorikan kebutuhan belajar murid, paling tidak berdasarkan 3 aspek, yaitu (1) Kesiapan belajar (readiness) Siswa, (2) Minat siswa, dan (3) Profil belajar siswa. 

Kesiapan belajar (readiness) merupakan upaya untuk menciptakan lingkungan belajar yang kondusif dan memadai sehingga siswa berada pada zona nyaman untuk mempelajari materi ajar. Minat siswa juga merupakan hal yang perlu diidentifikasi, hal ini dikarenakan minat merupakan salah satu motivator penting bagi siswa untuk dapat ‘terlibat aktif’ dalam proses pembelajaran. 

Selanjutnya, Profil belajar merupakan pendekatan yang disukai murid untuk belajar. Hal ini biasanya dipengaruhi oleh gaya belajar, kemampuan awal, jenis kelamin dan lain sebagainya. 

Tujuannya memberikan kesempatan kepada murid untuk belajar secara natural dan efisien sesuai dengan gaya belajar yang mereka miliki. Untuk itu, tugas guru agar dapat memberikan pembelajaran dengan metode dan pendekatan yang bervariasi. 

Dengan memberikan pembelajaran yang berpihak pada kebutuhan siswa, diharapkan siswa dapat mengoptimalkan potensi dan kemampuannya secara efektif sebagai bentuk pembelajaran yang memerdekakan peserta didik.  (*)

Sumber: Tribun Jogja
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved