Wawancara Eksklusif
Akankah Perang Rusia-Ukraina Meluas Jadi Konflik Global? Simak Analisanya Berikut Ini
PERANG Rusia dan Ukraina masih terus berlanjut sejak meletus pada 24 Februari 2022. Gedung-gedung hancur, masyarakat sipil Ukraina angkat senjata.
Penulis: Ardhike Indah | Editor: Mona Kriesdinar
PERANG Rusia dan Ukraina masih terus berlanjut sejak meletus pada 24 Februari 2022. Gedung-gedung hancur, masyarakat sipil Ukraina angkat senjata untuk pertahankan tanah airnya. Darah terus bertumpahan, kuburan masal terus tercipta.
Sampai Senin (14/3/2022), belum ada tanda-tanda Rusia akan menghentikan serangan ke daerah strategis di Ukraina, meski sanksi ekonomi dari berbagai negara sudah diberikan kepadanya.
Lantas, apa yang perlu diketahui tentang perang Rusia dan Ukraina ini? Mungkinkah Eropa, Amerika dan North Atlantic Treaty Organization (NATO) membantu Ukraina? Apakah perang itu akan meluas menjadi perang Eropa? Akankah perang antara dua saudara itu menjadi konflik global?
Tribun Jogja berbincang-bincang dengan Dosen Ilmu Hubungan Internasional Universitas Pembangunan Nasional ‘Veteran’ Yogyakarta (UPNVY), Ludiro Madu SIP MSi. Perbincangan tersebut bisa Anda saksikan di kanal YouTube Tribun Jogja Official dalam rubrik Bincang Redaksi berjudul ‘Menakar Muara Invasi Rusia di Tanah Saudaranya’. Berikut ringkasannya.
Apa yang sebenarnya terjadi di Ukraina?
Rusia, di bawah kepemimpinan Putin, melakukan operasi militer. Ada dua terminologi ini, operasi militer dan invasi. Kalau kita bicara soal perang Rusia dan Ukraina, kalau kita menggunakan istilah umum itu adalah perang.
Jadi, Rusia menginvasi Ukraina dengan melanggar hukum internasional. Kalau dari sisi Putin sendiri, dia melakukan operasi militer khusus, atas wilayahnya di Donetsk dan Luhansk. Jadi, dua wilayah itu kebetulan sudah diakui oleh Rusia, 22 Februari 2022 ini.
Mereka merasa setelah itu lalu ada tentara atau militer dari Ukraina berada di wilayah dua republik itu, karena Ukraina menganggap wilayahnya. Sementara, orang-orang dari dua republik baru itu merasa berbeda. Mereka merasa ada agresi.
Dua wilayah itu sudah diakui Putin dan menjadi semacam perserikatan, aliansi pertahanan, maka ketika ada serangan di satu atau dua wilayah itu kemudian Putin merasa perlu dibantu. Ini sebenarnya, dari perspektif Rusia, ini adalah masalah domestik mereka. Jadi ini sebenarnya hampir sama ketika dulu kita mengenal Uni Soviet.
Penyebab perangnya apa?
Ukraina menjadi benteng terakhir, daerah penyangga, buffer zone untuk pertahanan Rusia. Bagi NATO sendiri, Ukraina adalah benteng terdepan untuk melawan Rusia. Jadi, Ukraina diperebutkan oleh dua pihak ini.
Yang repot, konflik ini diprovokasi Amerika Serikat dan NATO. Kita di Indonesia, sudah banyak belajar bagaimana Amerika, Rusia, China, sehingga kemudian kita bisa menilai, perilaku masing-masing negara secara internasional.
Banyak yang menganggap bahwa ini adalah provokasi Amerika, karena Amerika masih mendukung NATO untuk memperluas wilayahnya ke timur. Itu adalah hal yang tidak diinginkan Putin. Sejak awal, ketika perang dingin sudah selesai, Uni Soviet hancur, tapi NATO masih ada sampai sekarang, sedangkan Pakta Warsawa bubar.
Dua perspektif ini jadi tidak bisa bertemu?
Memang tidak bisa bertemu, tapi bagi Rusia, ada satu hal yang tidak bisa ditawar, yakni Ukraina tidak boleh masuk NATO. Kalau masuk Uni Eropa tidak masalah, tapi kalau NATO itu kan aliansi pertahanan. Militerisasi, ada built-in, built-up, akan menambah persenjataan di daerah NATO. Itu yang tidak diinginkan Rusia.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/BINCANG-REDAKSI-soal-Invasi-Rusia.jpg)