Kado Ultah Emas GKR Mangkubumi Sarat Pesan Mendalam

Dituliskan oleh 34 orang tokoh lintas kalangan dalam buku berjudul "GKR Mangkubumi : Penyambung Budaya Adiluhung dan Peradaban Indonesia Modern.

Editor: ribut raharjo
Istimewa
GKR Mangkubumi dalam peluncuran buku, GKR Mangkubumi : Penyambung Budaya Adiluhung dan Peradaban Indonesia Modern 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Hujan deras yang mengguyur Kota Yogyakarta sejak Sabtu sore kemarin tak menyurutkan puluhan orang datang ke Ndalem Poenokawan di Jl. KHA Ahmad Dahlan 71 Yogyakarta.

Halaman parkir bangunan cagar budaya yang pernah dipakai untuk Kantor Wali Kota Yogyakarta dari tahun 1945 hingga 1970-an penuh sesak kendaraan. 

Di ruang utama tampak Sri Sultan HB X dan GKR Hemas serta kelima putri dan mantu dalem, Gusti Putri Pakualam, Menkopolhukam RI Mohammad Mahfud MD, Kepala BPIP Yudian Wahyudi, Staff Khusus Presiden Sukardi Rinakit, KH Ahmad Muwafiq, Direktur Eksekutif Jaringan Moderat Islah Barawi, Staff Khusus Menkeu Prastowo, anggota Parampara Praja serta tamu lainnya. 

Semua duduk setengah melingkar di delapan meja bulat berlapiskan kain merah menyala.

Di bagian depan ada podium kecil berkarpet yang juga berwarna merah. Dekorasi  bernuansa merah makin kontras dengan hiasan bunga-bunga di berbagai sisi ruangan yang dominan putih. Perpaduan yang sederhana namun tampak anggun dan berkharakter.

Perpaduan ini jugalah yang muncul dalam perhelatan ulang tahun emas Gusti Kanjeng Ratu Mangkubumi semalam (26/2/2022) di Ndalem Poenokawan.

Sosok putri sulung Raja Yogya ini banyak diutarakan orang sebagai pribadi yang simpel, apa adanya --bahkan kerap berpampilan tanpa sapuan make up-- namun tak mengurangi keberadaannya sebagai pribadi yang berkarakter kuat. Hangat terhadap siapapun namun tegas jika sudah berbicara prinsip.

Gambaran serupa banyak dituliskan oleh 34 orang tokoh lintas kalangan dalam buku berjudul "GKR Mangkubumi : Penyambung Budaya Adiluhung dan Peradaban Indonesia Modern" yang semalam diluncurkan sekaligus sebagai kado ulang tahun buat Gusti Mangkubumi. Buku itu sendiri disusun hanya dalam waktu tiga pekan saja. 

Penulis sekaligus editor buku Widihasto Wasana Putra menyampaikan, buku ini juga mengulik kisah masa lalu dan kiprah Gusti Mangku saat masih bernama Raden Ajeng Nurmalita, kemudian berganti GKR Pembayun dan kemudian menyandang gelar nama GKR Mangkubumi

Banyak kisah unik dan mengesankan muncul. Apalagi diungkapkan sendiri oleh ibunda GKR Hemas, suami, anak-anak dan adik-adik Gusti Mangku.

"Harapannya kado buku ini dapat menyemangati Gusti Mangku untuk semakin teguh dan kuat mengarungi gelombang samudera kehidupan," ujar Widihasto.

Dalam sambutannya mewakili penulis, Mahfud MD mengungkapkan, bangsa Indonesia hari ini menghadapi masa depan di mana masyarakat dunia berubah.

Sedangkan kita ingin nilai-nilai adiluhung bangsa itu tidak luntur menghadapi masa depan. Sehingga perlu penyambung. Setiap hari orang mencaci orang, tidak ada sopan santun lagi, tidak ada budaya yang kita banggakan dulu.

"Lho, ini kan budaya mulia. Tapi kenyataannya kita menghadapi tantangan besar budaya kita terkikis. Apalagi sekarang batas-batas antar negara sudah tak ada lagi, sehingga kita perlu penyambung," paparnya. 

Halaman
12
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved