Ini yang Dilakukan KPU Bantul untuk Bekali Pemilih Pemula

KPU Bantul menggelar obrolan demokrasi secara online dengan tema Radikalisme VS Demokrasi.

Editor: ribut raharjo
Istimewa
KPU Bantul menggelar obrolan demokrasi secara online dengan tema Radikalisme VS Demokrasi. 

TRIBUNJOGJA.COM, BANTUL - KPU Bantul menggelar obrolan demokrasi secara online dengan tema Radikalisme VS Demokrasi.

Obrolan demokrasi yang diikuti oleh Ketua dan Pengurus OSIS dari 80 SLTA di Bantul ini menghadirkan narasumber Wakil Dekan Fakultas Agama Islam UAD, Dr Arif Rahman serta Kasie Dikmen Kemenag Bantul, Ahmad Musyadad.

Ketua KPU Bantul, Didik Joko Nugroho berharap obrolan demokrasi yang diikuti oleh Ketua dan Pengurus OSIS ini dapat menjadi bekal bagi para pelajar Bantul yang notabene adalah pemilih pemula dalam Pemilu 2024 yang akan datang.

Lebih lanjut dijelaskan melalui diskusi ini nantinya para pengurus OSIS dapat menjadi motor penggerak penerapan nilai-nilai demokrasi baik dilingkungan sekolah maupun dimasyarakat.

Didik mengatakan para ketua OSIS ini dalam rentang waktu 10 tahun yang akan datang menjadi tokoh dan pemimpin di Bantul, oleh karena itu penting untuk memberikan banyak bekal termasuk dalam hal penerapan nilai-nilai demokrasi.

Ketua Divisi Sosdiklih dan SDM KPU Bantul, Musnif Istiqomah menambahkan bahwa obrolan demokrasi ini adalah bagian dari tindak lanjut dari hasil pemilihan Ketua OSIS (pemilos) Tahun 2021 yang lalu.

Musnif menjelaskan bahwa KPU Bantul memilih tema Demokrasi Vs Radikalisme sebagai antisipasi sejak dini agar para pemilih pemula tidak terpapar paham radikalisme yang akan menggerogoti nilai-nilai demokrasi.

Pengurus OSIS diharapkan menjadi salah satu benteng di sekolah terhadap masuknya radikalisme dilingkungan sekolah.

Pada kesempatan yang sama narasumber Wakil Dekan FAI UAD, Dr Arif Rahman menyampaikan bahwa dari hasil pemetaan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) bahwa 85 % generasi milineal rentan terpapar radikalisme.

Radikalisme itu sendiri dapat dimaknai sebagai upaya untuk menuntut perubahan dengan menggunakan kekerasan untuk kembali ke dasar (radix) atau memaksakan perubahan tersebut dengan cara-cara yang tidak manusiawi.

Lebih lanjut Arif menyampaikan bahwa ada beberapa transformasi radikal ektremisme diantara dimulai dari adanya sikap intoleran, pemahaman radikal, aksi terorisme dan yang paling kompleks adalah aksi ektremisme itu sendiri.

Ancaman radikalisme terhadap demokrasi menjadi nyata apabila muncul sikap eklusifisme dan close minded terhadap pemikiran-pemikiran orang lain.

Dalam konteks demokrasi tentu pola pikir radikalisme akan bertolak belakang karena demokrasi menghendaki adanya nilai-nilai keterbukaan.

Salah satu solusi untuk menangkal radikalisme di sekolah adalah dengan memberikan kesempatan kepada pengurus OSIS untuk ambil bagian dalam menyuarakan kerukunan dan toleransi antar umat beragama, antar ras suku bangsa di masing-masing sekolah. (rls)

Sumber: Tribun Jogja
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    Tribun JualBeli
    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved