Iran Sukses Kembangkan Peluru Kendali Modern, Bobot Lebih Ringan Hingga Lincah Bermanuver

Peluru kendali yang diberi nama Kheibarshekan ini disebut memiliki kelebihan kemampuan bermanuver dan bobot yang lebih ringan di kelasnya.

Penulis: Hari Susmayanti | Editor: Hari Susmayanti
AFP/SEPAH NEWS
Foto yang dirilis pada 10 Juli 2008 oleh situs berita Garda Revolusi Iran, Sepah News, memperlihatkan tiga rudal meluncur di udara dari lokasi yang dirahasiakan pada 9 Juli 2008. 

TRIBUNJOGJA.COM, TEHERAN - Iran sukses mengembangkan peluru kendali yang mampu menjangkau target sejauh 1450 kilometer.

Peluru kendali yang diberi nama Kheibarshekan ini disebut memiliki kelebihan kemampuan bermanuver dan bobot yang lebih ringan di kelasnya.

Dengan jarak jelajah sejauh 1450 KM ini, peluru kendali terbaru milik Iran ini dipastikan bisa menjangkau wilayah Israel dan Arab Saudi.

Kheibarshekan pertama kali diperkenalkan saat para petinggi militer mengunjungi pangkalan rudal milik Garda Revolusi (IRGC), seperti yang diberikan kantor berita Tasnim pada Rabu (9/2/2022).

"Senjata strategis ini adalah peluru kendali jarak jauh generasi ketiga yang dikembangkan IRGC dan digerakkan bahan bakar solid, serta mampu mempenetrasi sistem pertahanan dengan daya manuver yang tinggi,” tulis media semi-resmi Iran tersebut dikutip Tribunjogja.com dari Tribunnews.com.

"Desain Kheibarshekan yang sudah dimodifikasi, bobotnya sepertiga lebih ringan dari rata-rata peluru kendali di kelasnya”, demikan klaim Garda Revolusi. Keberhasilan itu bisa dicapai, meski waktu pengembangan dipangkas seperenam dari rencana awal.

"Kami akan terus melangkah menuju pertumbuhan, pengembangan dan keunggulan untuk kekuatan rudal kami, baik dalam hal kuantitas dan kualitas,” kata Kepala Staf Angkatan Bersenjata Iran, Mayjen Mohammad Bagheri, seperti dikutip Tasnim.

Baca juga: Penjelasan Iran Soal Update Terbaru Tentang Negosiasi Perjanjian Nuklir 2015

Baca juga: Jika Ingin Serang Iran, Israel Tegaskan Tak Perlu Izin Amerika Serikat

Dengan daya jelajah hingga 1.450 km, peluru kendali terbaru Iran itu bisa menjangkau seluruh wilayah Israel dan Arab Saudi, dua mitra terpenting AS di kawasan. Bahkan disebutkan, Iran juga punya rudal berdaya jelajah hingga 2.000 km.

Menurut laporan itu, angkatan bersenjata mendukung kelanjutan program pengembangan peluru kendali, terlepas dari perundingan nuklir yang kembali dilanjutkan di Wina, Austria.

Pasang surut perundingan nuklir

Dari lingkaran diplomat dilaporkan, proses negosiasi nuklir Iran yang melibatkan Uni Eropa, Cina, Prancis, Jerman, Rusia, Inggris dan Amerika Serikat itu sudah memasuki fase penentuan.

Komisaris Luar Negeri Uni Eropa, Josep Borell, mengatakan, saat ini "kedua pihak sudah menunjukkan kesediaan” untuk saling mengambil langkah insiatif. "Ada tawaran dari Amerika Serikat, lalu ada tawaran balasan,” dari Iran, kata dia.

"Saya tidak tahu apakah akan selesai dalam sepekan, dua pekan atau tiga pekan, tapi yang pasti kita sudah berada di fase terakhir negosiasi.”

AS menuntut Iran menghentikan program nuklirnya yang maju pesat sejak Perjanjian Nuklir 2015 dibatalkan mantan Presiden Donald Trump, 2018 lalu. Sebaliknya Teheran meminta AS terlebih dulu membatalkan sanksi ekonomi terhadap Iran.

Baru-baru ini, Washington memperpanjang pembebasan sanksi bagi program nuklir sipil Iran. Meski menyambut, Teheran menilai kebijakan tersebut tidak cukup.

"Sebuah perjanjian yang mengakomodasi kekhawatiran semua pihak sudah di depan mata,” kata seorang juru bicara Kementerian Luar Negeri AS, Senin (7/2). "Tapi jika kesepakatan tidak tercapai dalam beberapa pekan ke depan, perkembangan teknologi nuklir Iran yang pesat akan mempersulit kembalinya Perjanjian Nuklir 2015.”

Badan Energi Atom Internasional (IAEA) melaporkan betapa Iran sudah sangat jauh melampaui batasan yang ditetapkan dalam perjanjian nuklir, dan kini hanya membutuhkan beberapa pekan untuk memperkaya jumlah materi yang cukup untuk membuat senjata nuklir.

Walaupun demikian, Sekretaris Dewan Keamanan Nasional, Ali Shamkhani, menilai keputusan akhir bukan terletak di tangan Iran, melainkan di Washington.

"Suara-suara dari dalam pemerintahan Amerika Serikat menunjukkan tidak adanya kebulatan sikap di negara itu untuk membuat keputusan politik demi memajukan perundingan di Wina,” tulisnya via Twitter. (*)

Sumber: Tribunnews
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved