Headline
Bosan Belajar di Rumah, PTM 50 Persen di Yogyakarta Dinilai Kurang Efektif
Sejumlah siswa yang bersekolah di DIY merasa sedih harus kembali melaksanakan Pembelajaran Tatap Muka (PTM) 50 persen.
Penulis: Tribun Jogja | Editor: Iwan Al Khasni
TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Sejumlah siswa yang bersekolah di Daerah Istimewa Yogyakarta merasa sedih harus kembali melaksanakan Pembelajaran Tatap Muka (PTM) 50 persen. Mereka menilai, PTM 50 persen membosankan.
“Aku bosan kalau belajar di rumah. Sendiri, enggak sama teman-teman,” ucap Muhammad Alif, salah satu siswa SD negeri di Sleman kepada Tribun Jogja, tempo hari.
Alif adalah siswa kelas 3 SD. Ia baru mengikuti PTM 100 persen dua minggu belakangan, setelah nyaris dua tahun belajar dari rumah karena pandemi. Akan tetapi, per Rabu (3/2/2022) lalu, SD negeri tempatnya sekolah kembali menerapkan PTM 50 persen.
Untuk siswa dengan presensi 1-15 akan belajar dari sekolah di hari Senin, Rabu, dan Jumat. Kemudian, siswa dengan presensi 16-32 belajar dari sekolah pada Selasa, Kamis, dan Sabtu.
“Kalau belajar dari rumah, aku suka dimarahin mama. Mama galak kalau ngajar. Kalau di sekolah, bisa main sama teman-teman dan ketemu pak guru, bu guru,” candanya.
“Aku sekarang sudah kangen teman-temanku, lho. Eh, tapi kalau sekolahnya satu masuk satu enggak, jadi enggak ketemu temanku satunya. Absen dia itu nomor 20-an, jadi enggak ketemu aku,” paparnya lagi.
Kesedihan Alif juga dirasakan oleh Naura Tiara. Ia kini duduk di kelas 6 di satu SD negeri di Kalasan, Sleman.
Setiap hari, ia harus mengikuti latihan ujian untuk mengasah kemampuannya menghadapi ujian akhir kelulusan nanti. Sayangnya, dia menilai itu cukup rumit.
“Ribet kalau masuk enggak, masuk enggak. Soalnya tugasnya jadi banyak juga, ada yang offline ada yang online, capainya dobel,” ujar Naura berkomentar.
“Aku sudah nyaman PTM 100 persen. Bisa lihat teman-teman. Enggak lama nyambung-nyambungin internet, tapi gimana katanya kasusnya (Covid-19) naik lagi,” tambahnya.
Naura menambahkan, ia sering kesulitan memahami pelajaran apabila sekolah dari rumah. Kadang kala, dia juga merasa jenuh ketika harus belajar sendiri di rumah.
“Inginnya sih PTM lagi 100 persen, biar bisa bareng-bareng teman. Entah kenapa, ya, bareng teman itu ada temannya gitu. Jadi bisa tanya ke teman kalau ada yang enggak ngerti,” tandasnya.
Raya, siswa kelas 8 SMP menambahkan, dirinya juga merasa lelah dengan adanya PTM 50 persen. Ia ingin bisa sekolah lagi seperti dulu waktu SD.
“Aku tipenya tuh harus yang menyimak gitu, lho. Menyimak guru, aku paham pelajarannya. Kalau sekolah dari rumah gitu suka keganggu kucing. Mending belajar di sekolah, di rumah aku bisa mainan sama kucing,” paparnya polos.
Ia sendiri mengakui sudah merasa senang ada pengumuman bisa sekolah penuh 100 persen. “Aku sampai beli sepatu baru biar nyaman di sekolah.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/Bosan-Belajar-di-Rumah-PTM-50-Persen-di-Yogyakarta-Dinilai-Kurang-Efektif.jpg)