Kecelakaan Bus di Bantul
Mulyadi Kehilangan 7 Anggota Keluarganya dalam Kecelakaan Bus di Bantul
Rasa kehilangan dialami Mulyadi (49) warga Kedungrejo, Sukoharjo, Jawa Tengah. Ia kehilangan tujuh anggota keluarganya dalam peristiwa nahas itu.
Penulis: Tribun Jogja | Editor: Mona Kriesdinar
Dalam kondisi luka bagian kepala, kaki, tangan, dan punggung, Danarto berusaha bangkit dan mencari anggota keluarganya.
"Saya bisa berdiri, langsung cari istri dan anak-anak saya. Saya merangkak mencari kedua anak saya di dalam bus. Darah masih bercucuran," ungkapnya.
Akhirnya Danarto dapat menemukan kedua anaknya, Elsa Ramadani (12) dan Aliya Dwi Oktavia (7). Lalu dia terus berusaha mencari istrinya yang duduk di bangku kedua atau tepat belakang sopir.
Ternyata sang istri, Sri Rahayu (35) sudah berada di luar bus. "Istri saya terlempar juga keluar bus," ujarnya.
Ia pun kembali mencari korban yang selamat dalam peristiwa tersebut dan menemukan ibu mertuanya mengalami luka parah, satu di antaranya patah tulang tangan. Danarto sendiri harus mendapatkan jahitan di bagian wajah dan lutut kaki kanan.
"Dada masih agak sakit," katanya.
Sri Rahayu, istri Danarto mengungkapkan, sebelum menabrak tebing penumpang sudah panik. Sang sopir kala itu tidak berkata apa pun.
“Tapi penumpang pada teriak Allahuakbar Allahuakbar, setelah itu bruk langsung menabrak tebing," ungkapnya. Sampai kemarin, dia belum mengetahui kondisi keluarganya yang lain. Keluarga besarnya turut dalam acara yang seharusnya berakhir bahagia itu.
Menurut Danarto, dalam bus pariwisata AD 1507 EH tersebut ada 47 penumpang termasuk sopir dan kernet. Rombongan beriwsata tersebut berangkat dari Sukoharjo pukul 07.00 WIB. Awalnya tujuan wisata ke tiga lokasi, yakni Malioboro, Puncak Becici, dan Pantai Parangtritis. Namun tujuan diubah ke Tebing Breksi Sleman, kemudian ke Puncak Becici, dan dilanjutkan ke Pantai Parangtritis.
Danarto mengisahkan, sebelum kecelakaan terjadi dan berada di tanjakan tinggi, bus sudah tidak kuat melaju. Bahkan mesin sempat mati.
"Dinyalakan lagi ternyata enggak bisa. Sempat bus mundur sedikit. Akhirnya kernet cari balok (untuk mengganjal). Penumpang masih histeris, akhirnya pintu dibuka, penumpang saya suruh turun," ceritanya.
Bus pun berhasil dihidupkan dan naik tanjakan. Penumpang yang semula turun akhirnya naik lagi ke dalam bus. Kemudian bus melaju dengan kondisi transmisi masuk ke gigi 3.
Danarto sempat mendengar pembicaraan sopir dan kernet bahwa filter bus kotor atau bermasalah. Kernet menimpali bahwa seminggu sebelumnya mereka lewat jalur tersebut dan tidak ada masalah.
Setelah mendengar pembicaraan sopir dan kernet, perasaan Danarto sudah tidak enak. Sampai jalan menurun awalnya bus melaju biasa. Namun di tikungan Bukit Bego, sopir terlihat panik dan memindah posisi perseneling. Setelahnya, laju bus sudah oleng ke kanan dan ke kiri.
"Saya bilang, ‘pir, ini bisa enggak?’ Sopir enggak bicara, diam semua, kayaknya panik. Mungkin ini (rem) blong. Bus itu turun dalam kecepatan tinggi. Bolak balik mau dihantamin ke mana enggak tahu. Akhirnya di tikungan terakhir ada (truk) Elf dari bawah, kalau enggak salah bawa pasir. Mau dihantamin ke situ takut semua habis. Kalau ke kiri jurang. Langsung ambil ke kanan tebing itu," ungkapnya.