Kecelakaan Bus di Imogiri
Imbas Kecelakaan Bus Pariwisata di Imogiri Bantul, BPBD DIY Akan Kembangkan Destinasi Aman Bencana
Pemda DIY akan segera mengevaluasi jalur menuju tempat wisata serta kesiapan destinasi wisata itu sendiri dalam menghadapi potensi bencana
Penulis: Yuwantoro Winduajie | Editor: Muhammad Fatoni
TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Kecelakaan tunggal bus pariwisata di kawasan Bukit Bego, Wukirsari, Imogiri, Bantul pada Minggu (7/2/2022) lalu merenggut 13 nyawa penumpang serta puluhan lainnya terluka.
Agar peristiwa nahas itu tak terulang, Pemda DIY akan segera mengevaluasi jalur menuju tempat wisata serta kesiapan destinasi wisata itu sendiri dalam menghadapi potensi bencana.
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana (BPBD) DIY, Biwara Yuswantana, menuturkan DIY memang mengandalkan sektor pariwisata untuk menggerakkan perekonomian daerah.
Karenanya, pemerintah setempat harus memperhatikan aspek keselamatan dan keamanan di kawasan wisata.
Termasuk memikirkan jalur yang aman untuk dilalui wisatawan.
"Jadi kawasan destinasi juga harus mempunyai perangkat yang bisa bertindak cepat jika terjadi potensi kerawanan," terang Biwara saat ditemui di Kompleks Kepatihan Yogyakarta, Senin (7/2/2022).
"Makannya itu perlu perangkat-perangkatnya baik katakanlah mungkin seperti jalur kemarin itu. Apakah perlu kebijakan mestinya bus besar mestinya tidak lewat situ. Lewat jalur yang lain yang pasti aman," tambahnya.
Hingga saat ini, BPBD DIY belum memiliki data soal sebaran lokasi wisata yang berada di daerah rawan.
Sebab, selama ini penentuan daerah rawan dilakukan melalui pendekatan kewilayahan. Misalnya adalah pembentukan kalurahan tangguh bencana di daerah rawan longsor.
"Saya punya ide untuk pengembangan selama ini kita ada kalurahan tangguh bencana nanti kita akan kembangkan ke destinasi aman bencana," jelasnya.
Pendataan perlu dilakukan karena saat ini marak bermunculan spot-spot wisata baru.
Menurutnya, juga ada tren bahwa sebagian wisatawan justru menggemari tempat wisata yang ada di tempat ekstrim.
"Karena kecenderungan sekarang destinasi berada di daerah di mana orang bisa terpacu adrenalinnya. Naik ke puncak bukit dan lainnya. Itu kan ada unsur risiko, jadi semakin tinggi adrenalin semakin tinggi risikonya," terangnya.
Selain itu, pihaknya juga akan berkoordinasi dengan asosiasi-asosiasi yang bergerak di industri wisata.
Sebab komitmen bersama diperlukan untuk mewujudkan destinasi wisata yang aman.
"Saya kira juga perlu meningkatkan pengawasan pada asosiasi-asosiasi. Kemarin sempat ketemu GIPI dan di sana kan juga ada unsur ASITA dan penyelenggara event dan sebagainya. Monggo kita sama-sama bersinergi untuk menciptakan pariwasata aman," paparnya. (*)