Berita Sleman Hari Ini
Mbah Carik Legenda Jadah Tempe Kaliurang Wafat, Dikenal Sebagai Sosok Ibu Hebat yang Tak Pelit Ilmu
Sudimah Wiro Sartono, pengusaha jadah tempe legendaris di Kaliurang, atau dikenal dengan sebutan jadah tempe Mbah Carik tutup usia.
Penulis: Ahmad Syarifudin | Editor: Kurniatul Hidayah
TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN - Sudimah Wiro Sartono, pengusaha jadah tempe legendaris di Kaliurang, atau dikenal dengan sebutan jadah tempe Mbah Carik tutup usia.
Semasa hidup, almarhumah yang meninggal di usia 92 tahun itu, dikenal sebagai sosok ibu yang hebat dan tidak pelit ilmu.
Bejo Wiryanto, anak ketiga dari Mbah Wiro, sebutan Mbah Sudimah Wiro Sartono, sangat kehilangan dengan sosok Ibunda.
Baginya, sang Ibu merupakan wanita terhebat nomor satu di muka bumi. Tidak ada yang bisa menggantikannya.
Baca juga: SAR Satlinmas Wilayah I Gunungkidul Evakuasi Lansia Asal Girisubo Meninggal di Ladang
"Wanita terbaik pertama adalah ibu saya. Dia mengajarkan apapun, tentang kebaikan-kebaikan. Tentang masa depan, dan beliau selalu berpikir tentang negara, tentang masyarakat, bagaimana cara mencari nafkah. Beliau tidak egois," kata Bejo, di rumah duka, Kaliurang Selatan, Hargobinangun, Pakem, Sleman, Rabu (12/1/2022).
Ia bercerita, sang Ibu berjualan jadah tempe di Kaliurang melanjutkan perjuangan dari Simbah Ngadikem Sastrodinomo, yang berjualan Jadah Tempe atas saran dari KRAy Hastungkara, Istri Sri Sultan HB IX sejak tahun 1938 dan diberi nama jadah tempe Mbah Carik.
jadah tempe Mbah Carik sendiri memiliki citarasa yang berbeda dibanding lainnya.
Mbah Ngadikem, kata Bejo, merupakan sosok yang luar biasa. Simbah berjualan tidak mau sendiri dan mengajak anaknya, Mbah Sudimah Wiro Sartono.
Hingga kini jadah Tempe Mbah Carik dilanjutkan oleh Mbah Wiro, sebagai generasi kedua.
Semasa hidupnya, Mbah Wiro gemar mengajari orang-orang di Kaliurang untuk bisa membuat jadah tempe.
"Jadi ilmu itu oleh ibu saya harus dibagi-bagikan ke orang lain. Nggak mungkin ibu saya ini (ilmunya) dipakai sendiri," kata Bejo.
"Alhamdulillah, ada 67 orang yang sudah diajari ibu saya membuat jadah tempe, yang sekarang mereka itu hidup dari jualan jadah tempe," imbuh dia.
Mereka yang berjualan jadah tempe saat ini sudah dikoordinir menjadi sentra dan diketuai oleh Bejo.
Lebih lanjut, Bejo mengatakan, berjualan jadah tempe, amanah dari Mbah Ndadikem Sastrodinomo, harus dikelola keluarga, tidak boleh di franchise-kan atau waralaba.
Pesan itu dikatakan Mbah Ngadikem ke Mbah Wiro dan diteruskan ke generasi berikutnya.
Baca juga: Tempat Parkir Vertikal di Balai Kota Yogyakarta Siap Dioperasikan per 1 Februari 2022