Gunung Api Purba Godean

Melihat Langsung Fenomena Batuan yang Mengulit Bawang di Gunung Purba Godean

Secara geologi dari berbagai literatur yang diperoleh Tribunjogja.com, kemunculan batuan mengulit bawang itu lumrah di bumi.

Penulis: Setya Krisna Sumargo | Editor: Mona Kriesdinar
TRIBUNJOGJA.COM | SETYA KRISNA SUMARGO
Penampakan batuan mengulit bawang di perbukitan Gunung Api Purba Godean 

TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN – Mungkin Anda sudah tahu bahwa gugusan perbukitan di Godean dan Seyegan itu merupakan formasi Gunung Api Purba. Anda juga mungkin sudah pernah menyaksikannya. Namun pernahkah Anda memperhatikan lebih dekat secara lebih saksama ada batuan jenis apa saja di sana? Satu di antaranya yang menarik perhatian adalah keberadaan batuan yang mengulit bawang.

Sebagai informasi bahwa gunung api purba yang berada di Seyegan dan Godean, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) ini berasal dari masa tersier, sekira 60 juta tahun lalu.

Dari jenis batuan dan bukti-bukti jejak aktivitas vulkaniknya, usia gugusan gunung api hasil erupsi prasejarah ini umurnya lebih tua dari lava bantal, sebuah jejak gunung purba di Berbah, Sleman.

Selain geolog dan vulkanolog, banyak yang belum tahu gugusan bukit di Desa Pendekan, Jering, Sidorejo, Celungan Sumberagung Moyudan, Berjo dan sekitarnya itu gunung purba yang telah mati.

Meski hampir semasa, penampakan secara fisik dan geologis, di antara bukit-bukit itu memiliki ciri berbeda-beda.

Dari segi pelapukan batuan, beberapa bukit purba memperlihatkan kekhasan. Satu di antaranya batuan yang mengalami pelapukan mengulit bawang atau spheroihedral weathering.

Singkapannya bisa dilihat secara langsung di tebing Gunung Gedhang, Gunung Butak, dan Gunung Berjo.

Di kaki dan lereng utara Gunung Butak, singkapan batuan purba terlihat sangat jelas. Jenis pelapukan mengulit bawang secara mudah bisa ditemukan.

Tribunjogja.com yang mendatangi lokasi itu menemukan penampakan yang sangat menarik. Singkapan tebing yang ditambang batunya itu menyisakan aneka pola membundar.

Lapisan-lapisan batu yang melapuk itu sebagian masih utuh, belum terkontaminasi meski sebagian besar lainnya sudah hancur karena aktivitas penambangan.

Seorang pekerja warga asal Banjarnegara yang menolak ditulis namanya, hanya tahu batu yang ia tambang disebut batu hijau.

Ia tidak paham mengapa ada lapisan-lapisan sebagai kulit luar batu bulat yang seolah seperti dibungkus lapisna-lapisan lapuk itu.

“Batu ini sangat baik. Namanya batu hijau, dan pori-porinya kecil rapat dan bagus buat nisan atau patung,” kata pekerja itu.

Terjadinya Pola Batuan yang Mengulit Bawang

Formasi batuan mengulit bawang, yang dibentuk oleh proses pelapukan lanjut
Formasi batuan mengulit bawang, yang dibentuk oleh proses pelapukan lanjut (TRIBUNJOGJA.COM | SETYA KRISNA SUMARGA)

Secara geologi dari berbagai literatur yang diperoleh Tribunjogja.com, kemunculan batuan mengulit bawang itu lumrah di bumi.

Secara faktual, di bumi tidak ada mineral yang abadi. Segala sesuatu akan berubah baik fisik maupun kimiawi, terutama yang berada dalam lingkungan atmosfer.

Halaman
123
Sumber: Tribun Jogja
Berita Terkait
  • Ikuti kami di
    AA

    Berita Terkini

    © 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved