Breaking News:

Musim Hujan, Pemkab Sleman Waspadai Harga Sayur yang Mulai Merangkak Naik 

Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Sleman mulai mewaspadai kenaikan harga sayur mayur di pasar tradisional. Sebab, hujan

Penulis: Ahmad Syarifudin | Editor: Kurniatul Hidayah
TRIBUNJOGJA.COM / Suluh Pamungkas
Berita Sleman 

TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN - Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Sleman mulai mewaspadai kenaikan harga sayur mayur di pasar tradisional.

Sebab, hujan dengan intensitas tinggi menyebabkan sayuran banyak terserang hama, produksi menurun, sehingga mengalami kenaikan harga. 

"Musim hujan ini yang paling kita waspadai memang kenaikan produk sayuran. Ada beberapa komoditas seperti brokoli, cabe dan sayuran yang tidak bertahan lama, akan sedikit naik harganya," kata Kepala Bidang Perdagangan, Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Sleman, Nia Astuti, Rabu (24/11/2021). 

Baca juga: Pengakuan Pemuda di Bantul yang Jual Perabotan Rumah Orang Tua demi Memberi Hadiah Pacarnya

Kenaikan harga sayur mayur dipengaruhi oleh faktor cuaca. Curah hujan tinggi berdampak pada kualitas hasil panen.

Karena tanaman sayur mudah rusak terserang hama. Nia mengatakan, berdasar hasil pantauan, harga sayur mayur di sejumlah pasar tradisional kini merangkak naik Rp 500 hingga Rp 1.000. 

Angka kenaikan tersebut dinilai masih wajar. Apalagi, permintaan sayuran sedang meningkat, seiring mulai banyaknya kegiatan hajatan di masyarakat. 

"Kami pantau, perusahaan catering banyak orang hajatan. Satu sisi, Alhamdulillah artinya ekonomi sudah meningkat. Tapi memang kami harus pantau terus ketersediaan dan harganya di pasar," kata dia. 

Ketua Forum Petani Kalasan, Janu Riyanto mengungkapkan harga komoditas sayur mayur di pasar kini mengalami peningkatan, namun biaya yang dikeluarkan petani untuk penanggulangan hama juga meningkat.

Sebab, petani harus bekerja lebih keras merawat tanaman supaya bisa panen.

Menurut dia, saat musim penghujan terjadi peningkatan serangan hama pada tanaman. 

"Musim hujan seperti ini hama bersembunyi di balik daun, sehingga serangannya lebih dahsyat. Akibatnya, banyak tanaman menguning," kata dia. 

Ia mencontohkan, tanaman cabai. Selain patek (antraknosa), juga terkena serangan layu fusarium. Yaitu penyakit dari akar yang disebabkan oleh kandungan air dalam tanah yang berlebih. 

"Tanah tidak bisa kering. Sehingga posisinya itu, jamur naik ke dahan sehingga tanaman bisa layu," kata dia. 

Baca juga: Buntut Pernyataan Kontroversial, Pemuda Pancasila DIY Tuntut Permintaan Maaf Junimart

Begitu juga tanaman sayur lainnya seperti sawi dan bawang merah. Saat musim penghujan, serangan hama lebih sulit dikendalikan. Karena itu, harganya cenderung mengalami kenaikan karena faktor cuaca. Janu berharap, agar petani sejahtera, maka Dinas terkait berkenan memberikan penyuluhan ataupun bantuan sungkup penahan air hujan (rain shelter) bagi petani. 

"Harapan kami kepada pemerintah seperti itu. Agar Petani bisa tanam diwaktu hujan. Sehingga petani tidak terpengaruh cuaca," harap dia. (rif)

Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved