Monumen PHB AURI Playen Gunungkidul, Saksi Bisu di Masa Perang Kemerdekaan RI
Bangunan berbentuk limasan khas Jawa itu tampak sederhana. Berada di Pedukuhan Banaran, Kalurahan Playen, Playen, Gunungkidul, rumah tersebut kini
Penulis: Alexander Aprita | Editor: Kurniatul Hidayah
TRIBUNJOGJA.COM, GUNUNGKIDUL - Bangunan berbentuk limasan khas Jawa itu tampak sederhana.
Berada di Pedukuhan Banaran, Kalurahan Playen, Playen, Gunungkidul, rumah tersebut kini jadi satu lahan dengan kompleks TK Negeri 1 Maret Playen.
Persis di pelatarannya, tugu besar peringatan berdiri sebagai tetenger dengan tulisan "Stasiun Radio AURI PC 2" di depannya. Di sudut lain, plang bertulisan "Monumen PHB AURI" juga terpasang.
Rumah sederhana yang berusia lebih dari setengah abad ini menjadi saksi bisu di masa perjuangan kemerdekaan RI.
Lewat sinilah, eksistensi RI sebagai negara berdaulat tersebar ke seluruh dunia.
Baca juga: Arthur Irawan Absen Latihan PSS Sleman, Andywardhana Putra: Dia Masih Berstatus Pemain PSS
Adapun rumah itu dulunya milik petani bernama Pawirosetomo. Kini, cucunya bernama Soeroso yang turut menjaga bangunan bernilai sejarah tinggi tersebut.
Soeroso bercerita, rumah kakeknya tersebut dulu dijadikan sebagai stasiun radio PC 2 AURI.
Mengikuti cerita ayahnya, segala proses siaran dilakukan secara sembunyi-sembunyi, selalu di malam hari.
"Dulu alat siarannya disembunyikan di ruang bawah tanah dapur, ditutupi dengan kayu bakar. Sementara pemancarnya disembunyikan di antara dua pohon kelapa," tuturnya pada wartawan belum lama ini.
Menurut Soeroso, upaya itu dilakukan guna menghindari patroli pasukan Belanda.
Apalagi saat itu sedang masa Agresi Militer II, di mana Kota Yogyakarta sempat diduduki.
Para pejuang yang bertahan memilih menyingkir ke luar daerah.
Lantas stasiun radio ini pun didirikan untuk berkomunikasi dengan para pejuang, sekaligus mengabarkan situasi Republik saat itu.
1 Maret 1949, pejuang menyerbu Kota Yogyakarta dalam Serangan Umum dan berhasil menduduki kota tersebut.
Kabar ini jugalah yang kemudian disiarkan PC 2 AURI di Banaran, dan diterima hingga mancanegara.
"Siarannya diterima Sumatra Barat kemudian ke Aceh, sampai akhirnya tersiar secara internasional," kata Soeroso.
Berkat informasi itulah, posisi Indonesia diketahui masih kuat.
Saat itu, Belanda berusaha memberitahu dunia bahwa Republik Indonesia sudah tidak ada dan kembali dikuasai mereka.
Puncaknya, saat sidang PBB tanggal 7 Maret 1949, banyak perwakilan negara yang akhirnya mengakui kemerdekaan RI. Kabar ini pun disambut gegap gempita oleh rakyat Indonesia.
Baca juga: UPDATE Penularan Klaster Takziah di Bantul, 11 Warga di Kapanewon Sanden Positif Covid-19
Menurut Soeroso, rumah tersebut kini dihibahkan ke AURI sebagai museum dan monumen peringatan.
Nyaris tidak ada yang berubah dari bangunan sederhana tersebut, hanya ditambah sejumlah keterangan.
"Setelah pensiun, saya memutuskan kembali, membangun rumah dan tinggal dekat sini," kata pria yang lahir di tahun 1949 ini.
Soeroso merupakan pensiunan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan DKI Jakarta dan cukup lama berkarir di sana. Masa tuanya pun kini ia habiskan di tanah kelahirannya itu.
Selain Soeroso, cicit Pawirosetomo bernama Sukaryo juga ikut menjaga rumah tersebut sebagai juru pelihara. Menurutnya, monumen tersebut kerap dikunjungi pelajar hingga wisatawan.
"Sekarang agak berkurang, mungkin karena pengaruh pandemi," tuturnya. (alx)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/monumen-phb-auri-di-playen-gunungkidul-121121.jpg)