Bank BPD DIY Syariah dan Desa Wono Prima Mandiri Dorong Perempuan Pengusaha Bangkit dari Pandemi

Bank BPD DIY Syariah menjalin kerja sama dengan Desa Wono Prima Mandiri yang berbasis di Desa Wonokerto, Kapanewon Turi, Sleman, Rabu (10/11/2021).

Penulis: Ardhike Indah | Editor: Kurniatul Hidayah
TRIBUNJOGJA.COM/ Ardhike Indah
Kerja Sama Bank BPD DIY Syariah dengan Desa Wono Prima Mandiri di Desa Wonokerto, Turi, Sleman, Rabu (10/11/2021) untuk mendampingi pelaku usaha terkait ekosistem digital 

Pimpinan Cabang Bank BPD DIY Syariah, Bambang Permana Hadi menambahkan, pihaknya ingin terus bekerja sama dengan sejumlah kelompok ekonomi produktif seperti Desa Wono Prima Mandiri.

“Harapannya, kerja sama ini terus berlangsung ya. Tidak hanya di sini, tapi juga di kabupaten dan kota di DIY sehingga kami juga bisa ikut membangkitkan perekonomian daerah dengan memanfaatkan teknologi seperti QRIS ini,” tukasnya.

Ditambahkan Direktur Pemasaran Bank BPD DIY, R Agus Trimurjanto, Bank BPD DIY saat ii berada di posisi yang bisa bertahan di masa pandemi.

Dia menyebutkan, Bank BPD DIY memiliki aset senilai Rp 1,4 Triliun, penyaluran kredit Rp 799 Miliar serta Dana Pihak Ketiga mencapai Rp 690 Miliar.

Dengan begitu, ia meminta kepada para anggota pelaku usaha untuk melakukan getok tular kepada warga lain, khususnya terkait pemasaran daring dan pendampingan pembiayaan.

Baca juga: Kejurkot Basket Yogyakarta Berakhir, Klub Spartan Mendominasi

“Saya bisa pastikan, kredit di Bank BPD DIY mudah. Visi kami adalah membangkitkan ekonomi daerah dan fokus pada UMKM. Maka, jika ada warga lain yang butuh modal, monggo kontak saja,” tandasnya.

Sementara, Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak dan Pengendalian Penduduk (DP3AP2) DIY, Erlina Hidayati mengapresiasi perempuan pelaku usaha di Desa Wono Prima Mandiri.

Menurutnya, di masa pandemi Covid-19 ini, perempuan bisa bangkit meningkatkan perekonomian lantaran mudahnya menjalin relasi satu sama lain.

Hingga kini, pihaknya sudah memiliki kurang lebih 107 kelompok Desa Prima di DI Yogyakarta. Masing-masing kelompok itu memiliki minimal 25 orang dan angka tersebut akan terus bertambah.

Sehingga, adanya pendampingan ini bisa semakin menambah wawasan mereka terkait ekosistem digital dan tentu saja, menjual lebih banyak produk ke para konsumen.

“Tahun 2022-2023, perhatikan adaptasi teknologi. Dari sekarang kita pelajari agar ke depan lebih mudah. Saya bangga, ibu-ibu di sini bisa memahami kebiasaan baru dan mempelajari teknologi seperti ekosistem digital,” tukasnya. (Ard)

Sumber: Tribun Jogja
Berita Terkait
  • Ikuti kami di
    AA

    Berita Terkini

    © 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved