Hasil Penelitian Terbaru, Antibodi Alami Covid-19 Bisa Bertahan hingga 10 Bulan, Ini Cara Kerjanya
Selama ini memang belum ada yang dapat memastikan hingga berapa lama antibodi Covid-19 bertahan dalam tubuh penyintas.
Penulis: Tribun Jogja | Editor: Muhammad Fatoni
TRIBUNJOGJA.COM - Hasil penelitian terbaru menyebutkan antibodi alami Covid-19 bisa bertahan hingga 10 bulan di tubuh penyintas sejak pertama kali terinfeksi virus corona.
Demikian hasil penelitian terbaru yang diterbitkan di jurnal Nature Microbiology.
Penelitian tersebut mendeteksi adanya antibodi pada 38 pasien dan petugas kesehatan di RS St Thomas yang terinfeksi Covid-19 saat gelombang pertama, sebelum mereka divaksinasi.
Selama ini memang belum ada yang dapat memastikan hingga berapa lama antibodi Covid-19 bertahan dalam tubuh penyintas.
Penelitian terbaru yang terbit di jurnal Nature Microbiology inipun menjawab pertanyaan tersebut.
Baca juga: Pil Molnupiravir untuk Pasien Covid Bergejala Ringan, Ini yang Perlu Kamu Tahu
Baca juga: Vaksin Pfizer Kantongi Izin dari FDA untuk Vaksinasi Covid-19 Anak Usia 5-11 Tahun
Dilansir dari Medical Xpress, Jumat (29/10/2021), meski ada penurunan tingkat antibodi, hasilnya menunjukkan bahwa kebanyakan orang (18-19 pasien) mempertahankan tingkat antibodi selama 10 bulan setelah mereka terinfeksi.
Lalu seperti apa cara kerja antibodi Covid-19 tersebut?
Antibodi membantu melawan Covid-19 dengan mengikat protein spike dari virus corona SARS-CoV-2 agar tidak bisa menginfeksi sel.
Nah, vaksin meniru protein spike ini agar bisa menciptakan antibodi terhadap Covid-19.
Peneliti yang dipimpin oleh Dr Katie Doores dari School of Immunology & Microbial Sciences juga menguji bagaimana antibodi dari virus corona SAR-CoV-2 spesifik akan merespons varian lain.
Mereka menguji ketahanan antibodi terhadap varian asli SARS-CoV-2, varian alpha, beta, dan delta.
Mutasi pada varian baru SARS-CoV-2 (alpha, beta, dan delta) telah menimbulkan kekhawatiran.
Banyak yang bertanya, apakah vaksin yang awalnya dikembangkan untuk menargetkan varian SARS-CoV-2 asli akan efektif terhadap varian baru.
Jika tidak efektif, apakah perlu vaksin baru?
Dr Liane Dupont mengatakan, penelitian ini memberikan wawasan unik tentang respons antibodi penetral silang yang disebabkan oleh varian SARS-CoV-2 yang berbeda.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/varian-baru-virus-corona.jpg)