Breaking News:

Dokter Spesialis Mikrobiologi Klinik UGM Soal Penurunan Tarif PCR : Validitasnya Harus Dijaga

Penurunan harga tes Polymerase Chain Reaction (PCR) covid-19 tidak boleh berdampak terhadap validitasnya.

Penulis: Ardhike Indah | Editor: Hari Susmayanti
TRIBUNJOGJA.COM / Alexander Ermando
Salah satu warga tengah menjalani pengambilan swab oleh petugas di Balai Pedukuhan Nogosari I, Bandung, Playen, Gunungkidul pada Rabu (09/06/2021). 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Penurunan harga tes Polymerase Chain Reaction (PCR) covid-19 tidak boleh berdampak terhadap validitasnya.

Dokter Spesialis Mikrobiologi Klinik dari Departemen Mikrobiologi Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan (FKKMK) Universitas Gadjah Mada (UGM), dr Raden Ludhang Pradipta Rizki MBiotech SpMK mengatakan, harga tes yang turun menjadi kurang lebih Rp 300 ribu juga harus dijaga validitasnya.

“Artinya, tidak menuntut murahnya, tapi perlu ada penjaminan mutu, quality control dan jangan sampai laboratorium asal-asalan dengan harga PCR murah,” jelasnya kepada Tribun Jogja, Senin (1/11/2021).

Dia menjelaskan, dengan harga PCR yang turun, otomatis kualitas reagen yang digunakan berbeda dengan yang digunakan saat harga masih berada di Rp 900 ribu.

Maka dari itu, dr Ludhang berharap, Dinas Kesehatan (Dinkes) di DI Yogyakarta perlu ikut andil mengamati, memeriksa dengan ketat dan melakukan penjaminan mutu internal baik untuk laboratorium swasta maupun milik pemerintah.

“Hasil yang diterima masyarakat harus sama validnya. Kalau positif ya betul positif, kalau negatif ya betul negatif. Sampai saat ini, tes PCR kan menjadi metode yang tervalid untuk menentukan masyarakat terjangkit virus corona atau tidak,” ungkapnya lagi.

Baca juga: Naik Pesawat Wilayah Perjalanan Jawa-Bali Tidak Lagi Harus Gunakan Tes PCR, Swab Antigen pun Boleh

Baca juga: Ini Sanksi Bagi Rumah Sakit dan Lab yang Tak Patuhi Ketentuan Batas Tarif Tertinggi Tes PCR

Lebih lanjut, dikatakannya, kondisi saat ini sudah berbeda dengan tahun lalu. Saat pertama kali pandemi, alat uji tes PCR mahal dan jumlah laboratorium yang bisa mengecek hanya sedikit.

Kini, laboratorium untuk mengecek sampel tes sudah cukup banyak dan alat uji melimpah. Sehingga, perlu ada kontrol kualitas agar tidak menimbulkan kevalidan palsu.

“Apalagi, cakupan vaksinasi lumayan banyak sekarang, sehingga bisa saja ada orang tanpa gejala (OTG) yang berkeliaran, tidak tahu kalau terpapar Covid-19,” ungkap dr Ludhang.

Sisi baiknya, masyarakat bisa memanfaatkan harga tes PCR yang murah tidak hanya untuk bepergian, tetapi juga untuk lakukan pembelajaran tatap muka (PTM).

Menurut dr Ludhang, Dinkes dan Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) bisa melakukan sinergi untuk skrining acak sekolahan agar tidak muncul klaster PTM.

“Satuan Tugas (Satgas) juga jangan leha-lega. Ibarat mobil, jalan boleh, tapi sewaktu-waktu harus injak rem, tetap perlu tes acak agar tidak kecolongan lagi,” terangnya.

Disinggung mengenai gelombang ketiga, dr Ludhang itu bisa terjadi selama status pandemi belum dicabut di dunia.

Namun, gelombang ketiga tetap bisa dihalau apabila masyarakat patuh dengan protokol kesehatan (prokes), mau mendapatkan vaksinasi Covid-19 dan pemerintah tetap menekankan pada tes, tracing serta treatment (3T). (Tribunjogja)

Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved