Breaking News:

Perketat Skrining Pengunjung Malioboro, Pemkot Yogyakarta Siapkan Fitur 'Peduli Jogja' di JSS

Digulirkannya PPKM level 2 di Kota Yogyakarta mulai Selasa (19/20/2021), langsung disikapi Pemkot setempat dengan menyiapkan berbagai skema

Penulis: Azka Ramadhan | Editor: Kurniatul Hidayah
TRIBUNJOGJA.COM/ Yuwantoro Winduajie
Kendaraan dan wisatawan memadati kawasan Malioboro pada Selasa (19/10/2021) 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Digulirkannya PPKM level 2 di Kota Yogyakarta mulai Selasa (19/20/2021), langsung disikapi Pemkot setempat dengan menyiapkan berbagai skema, untuk mengantisipasi keramaian wisatawan. 

Ketua Harian Satgas Covid-19 Kota Yogyakarta, Heroe Poerwadi mengatakan, pihaknya belum bisa memastikan destinasi mana yang siap beroperasi kembali selama PPKM level 2 ini.

Hanya saja, Malioboro memang menjadi fokus utama bagi jajaran Pemkot Yogyakarta

Oleh sebab itu, selain aplikasi PeduliLindungi yang kini sudah menjadi syarat wajib, ia juga meminta rombongan wisatawan yang berkunjung ke Kota Yogyakarta, agar mengunduh aplikasi Jogja Smart Service (JSS). 

Baca juga: PPKM Level 2 di DI Yogyakarta, PHRI DIY Minta Pariwisata Kembali Dibuka

"Karena di dalamnya nanti ada fitur 'Peduli Jogja', untuk mengelola, atau mengatur aktivitas di Malioboro, terkait pembatasan waktu kunjungan dua jam, dan batas parkir selama tiga jam," katanya, Selasa (19/20/2021). 

Bukan tanpa alasan, sebagai kawasan bisnis, Malioboro mengalami kesulitan untuk memperoleh QR code PeduliLindungi, layaknya objek wisata lain.

Sehingga, supaya seluruh pengunjung tetap terskrining, Pemkot harus mengembangkan aplikasi besutannya sendiri. 

"Jadi, kita pakai aplikasi JSS, dengan fitur 'Peduli Jogja'. Sekarang sebenarnya sudah ada aplikasinya sendiri. Tapi, saya minta untuk dimasukkan ke JSS," ujarnya. 

Baca juga: PPKM Turun ke Level 2, Warga Sleman Diminta Jangan Lengah 

Sementara itu, Wali Kota Yogyakarta, Haryadi Suyuti menyampaikan, dibutuhkan proses skrining di kawasan Malioboro, agar siapa saja pengunjungnya bisa terlacak.

Terlebih, dengan tingkat kunjungan yang sudah begitu tinggi, segala sesuatunya harus diantisipasi. 

"Tapi kan kita belum bisa itu (menerapkan) PeduliLindungi di Malioboro. Jadi, susah untuk melacaknya, berapa orang yang ada di sana. Misalnya, kalau terjadi klaster, kita tidak bisa tahu, siapa saja yang di sana. Padahal, itu sangat dibutuhkan untuk tracing," katanya. (aka)

Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved