Gandung Pardiman Jadi Korban Kampanye Hitam, Golkar DI Yogyakarta Angkat Suara

DPD Partai Golongan Karya DI Yogyakarta angkat suara terkait video yang viral di media sosial. Dalam video tersebut, disinggung nama "Gandung" yang

Penulis: Azka Ramadhan | Editor: Kurniatul Hidayah
istimewa
Jajaran Bakumham DIY, saat menyampaikan pernyataan sikapnya, di kantor setempat, Kota Yogyakarta, Kamis (7/10/2021) sore. 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - DPD Partai Golongan Karya DI Yogyakarta angkat suara terkait video yang viral di media sosial. Dalam video tersebut, disinggung nama "Gandung" yang mereka asumsikan sebagai Ketua DPD Golkar DIY, yang saat ini menduduki kursi DPR RI, Gandung Pardiman

Video berisikan orasi tokoh politik dari sebuah parpol, yang akan memberi bantuan untuk salah satu pondok pesantren (ponpes) di Sleman.

Namun, bantuan sebesar Rp 100 juta tersebut, diberikan dengan syarat dukungan kepadanya dalam Pemilihan Legislatif 2024 mendatang. 

Baca juga: Kota Yogyakarta Sudah Tuntas Vaksin, Sandiaga Uno Beri Diskresi Terkait Wisatawan di Bawah 12 Tahun 

Ketua Bakumham DPD Golkar DIY, Listiana Lestari berujar, yang menjadi masalah ialah, dalam video itu, terdapat kata-kata "jangan pilih" beberapa nama, dimana salah satunya  "Gandung".

Menurutnya, hal tersebut jelas tidak terpuji, bahkan terkesan menjatuhkan lawan politik. 

"Itu tindakan yang tidak mencerminkan sebagai seorang politisi nasional yang membuat video mengatasnamakan ketua partai, dan membuat gaduh suasana di tengah kondisi masyarakat yang seharusnya sedang fokus melawan pandemi," cetusnya, Kamis (7/10/2021) sore. 

"Bisa dibilang itu bentuk kampanye hitam ya, karena yang bersangkutan memeberikan sumbangan bersyarat, sembari menjatuhkan rival politik," imbuh Listiana. 

Baca juga: Dilaporkan Atas Tindakan Asusila, Pria Asal Playen Gunungkidul Dibekuk Aparat

Namun, ia memastikan, Ketua DPD Golkar DIY, Gandung Pardiman sama sekali tak terpancing dengan video tersebut.

Pihaknya juga menimbang, tidak ada unsur pidana dalam konten video itu, yang mengarah pada ujaran kebencian. Sehingga, polemik tak dimbawa lebih jauh. 

"Ini lebih soal etika berpolitik, karena kita harus selalu menjunjung nilai-nilai demokrasi, serta bertindak dengan prinsip santun dan bermartabat," ujarnya. 

Hanya saja, Listiana berharap agar yang bersangkutan bersedia mencabut video tersebut, meski sudah terlanjur viral, dan beredar luas di lini-lini media sosial.

Menurutnya, langkah tersebut demi menjaga kondusifitas perpolitikan tanah air, khususnya di Yogyakarta. (aka)

Sumber: Tribun Jogja
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved