Museum Anak Bajang di Sleman Diresmikan Jadi Ruang Belajar dan Pemersatu
Museum Anak Bajang diresmikan. Peresmian seiring digelarnya Festival Anak Bajang yang dilangsungkan secara hybrid (daring dan luring terbatas)
Penulis: Ahmad Syarifudin | Editor: Kurniatul Hidayah
TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN - Museum Anak Bajang diresmikan. Peresmian seiring digelarnya Festival Anak Bajang yang dilangsungkan secara hybrid (daring dan luring terbatas), di Omah Petroek, Wonorejo, Kalurahan Hargobinangun, Kapanewon Pakem, Kabupaten Sleman, Senin (27/9/2021).
Festival dan museum ini menghadirkan figur "Anak Bajang" yang memiliki filosofi hidup sederhana. Orang buruk rupa namun belajar untuk menerima keadaan, tetap ceria, dan penuh dengan ketulusan hati.
"Semangat dari anak bajang ini yang kemudian kami gunakan, bahwa ketulusan hati yang nanti menimbulkan solidaritas bersama. Itu yang kita ingin gali dari anak Bajang dan menjadi Museum. Disitu ada simbol perdamaian, pemersatu, juga ketulusan, dan Kebaikan hati," kata Kepala Museum Anak Bajang, Rhoma Dwi Arya Yuliantri, ditemui di lokasi.
Museum Anak Bajang diresmikan langsung oleh Dirjen Kebudayaan Kemendikbudristek, Hilman Farid. Dalam rangkaian festival itu, juga dibuka pameran lukis "Sukrosono" karya Susilo Budi.
Pertunjukan tari dan bincang buku. Lalu, peringatan 40 tahun, novel anak bajang menggiring angin karya Shindunata sekaligus peluncuran edisi kedua "Anak Bajang Mengayun Bulan" yang terbit bersambung di Harian Kompas. Dalam rangkaian festival juga akan menampilkan pementasan wayang Sumantri Ngenger.
Baca juga: Bupati Gunungkidul Tegaskan Distribusi Pupuk Bersubsidi Akan Diawasi Ketat
Rhoma bercerita, peresmian Museum anak Bajang ini di luar dugaan. Melebihi yang direncanakan. Sebab, acara semula hanya akan dikemas sederhana.
Hanya meluncurkan museum dan cerita bersambung anak Bajang Mengayun bulan karya Sindhunata. Namun para seniman dan pelaku budaya mengapresiasi dan turut mendukung, sehingga dikonsep menjadi festival.
"Semula acaranya dikemas sederhana. Tapi ini bentuk solidaritas teman-teman seniman. Kemudian, karena ada solidaritas dan habitat bersama, dari teman-teman intelektual, dan perguruan tinggi juga menjadi satu," kata dia.
Museum anak Bajang tidak hanya memajang koleksi ataupun benda mati namun didalamnya dikonsep memiliki sebuah aktivitas.
Di mana museum yang telah terdaftar sebagai museum ke-22 di Pemkab Sleman ini bisa menjadi wisata pendidikan, ruang belajar sekaligus museum milik masyarakat (for community).
Museum ini meliputi seluruh kawasan Omah Petroek yang terbagi dalam beberapa kompleks.
Di antaranya, komplek Ashram. Bangunan ini memiliki dua ruangan. Menyimpan figurasi ragawi dan visual tokoh anak Bajang maupun tokoh lainnya dan "Shindu Sekoel" yang berisi koleksi Shindunata berupa tulisan tentang filsafat, seni dan sepak bola disertai ilustrasi dalam karya seni. Ruangan ini memadukan antara intelektual dan karya seni. Kata "Sekoel" sendirian diambil ini dari bahasa Jawa yang berarti nasi.
"Jadi, kegiatan membaca dan berkesenian itu, diibaratkan seperti makan nasi sebagai kebutuhan hidup," terangnya.
Selanjutnya, ada Komplek Kapujanggan. Ruangan ini menyimpan koleksi dari tiga sosok penting dalam perkembangan majalah Basis (majalah kebudayaan tertua di Yogyakarta). Yaitu, P.J. Zoetmulder, N.Dijarkara dan Dick Hartoko.
Di dalam ruang ini juga menyimpan sebuah kitab, pemberian dari Keluarga Gusdur, yang ditulis di atas daun lontar.
Menariknya, di sini juga terdapat ruang Insulinde yang didedikasikan untuk merekam profesi dan kebiasaan masyarakat sehari-hari.
Lalu, ada kompleks Penyarikan. Ruangan ini didedikasikan khusus bagi para pekerja media dan karya Jurnalistik. Di kompleks ini terdapat patung lima tokoh pers Indonesia, yaitu Mochtar Lubis, B.M Diah, Rosihan Anwar, P.K Ojong dan Jakob Oetama.
Selain koleksi surat kabar, di tempat ini juga terdapat sumur Jakob sebagai salah satu koleksi luar ruangan.
"Sumur adalah lambang paling tradisional dari gagasan humanisme dalam jagat pers," kata Rhoma.
Museum ini dilengkapi dengan adanya kompleks sanggar Pamujan. Kompleks yang dimaksudkan sebagai simbol kerukunan dan perdamaian ini disediakan untuk panepen (tempat menepi/ menyendiri).
Baca juga: TNI AL Gelar Serbuan Vaksinasi dengan Sistem Drive Thru di UMY
Terdapat tempat beribadah dari 6 agama. Lalu, ada kompleks omah Petroek. Di lokasi ini terdapat ruang pertemuan, cafe Petroek, tempat beristirahat dan perpustakaan.
"Koleksi buku perpustakaan bisa diakses dan dibaca oleh pengunjung," ujarnya.
Karya "Anak Bajang Menggiring Angin" tepat berusia 40 tahun, seiring dengan itu Museum Anak Bajang diresmikan dan Sindhunata kembali menulis cerita tentang anak Bajang keduanya, berjudul "Anak Bajang Mengayun Bulan". Cerita ini bakal tayang di harian Kompas sebagai cerita bersambung selama 150 edisi.
Sindhunata berharap, diresmikannya Museum Anak Bajang bukan hanya tempat kunjungan dan klangenan. Namun lebih dari itu bisa dikonsep menjadi ruang merdeka belajar dan museum bagi masyarakat.
"Siapapun ikut miliki. Menjadi share knowledge dan share eksperimen. Jadi bukan hanya klangenan tapi sebagai langkah menuju masa depan dengan pijakan yang kita punya," kata Shindunata.
Menurut dia, berdirinya museum ini telah melalui proses panjang dan sungguh-sungguh. Dirintis sejak 20 tahun lalu, namun prosesnya telah dimulai sejak tahun 1977 melalui perjalanan Jurnalistik. (rif)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/dirjen-kebudayaan-kemendikbudristek-hilman-farid-27921.jpg)