Museum Anak Bajang di Sleman Diresmikan Jadi Ruang Belajar dan Pemersatu
Museum Anak Bajang diresmikan. Peresmian seiring digelarnya Festival Anak Bajang yang dilangsungkan secara hybrid (daring dan luring terbatas)
Penulis: Ahmad Syarifudin | Editor: Kurniatul Hidayah
Menariknya, di sini juga terdapat ruang Insulinde yang didedikasikan untuk merekam profesi dan kebiasaan masyarakat sehari-hari.
Lalu, ada kompleks Penyarikan. Ruangan ini didedikasikan khusus bagi para pekerja media dan karya Jurnalistik. Di kompleks ini terdapat patung lima tokoh pers Indonesia, yaitu Mochtar Lubis, B.M Diah, Rosihan Anwar, P.K Ojong dan Jakob Oetama.
Selain koleksi surat kabar, di tempat ini juga terdapat sumur Jakob sebagai salah satu koleksi luar ruangan.
"Sumur adalah lambang paling tradisional dari gagasan humanisme dalam jagat pers," kata Rhoma.
Museum ini dilengkapi dengan adanya kompleks sanggar Pamujan. Kompleks yang dimaksudkan sebagai simbol kerukunan dan perdamaian ini disediakan untuk panepen (tempat menepi/ menyendiri).
Baca juga: TNI AL Gelar Serbuan Vaksinasi dengan Sistem Drive Thru di UMY
Terdapat tempat beribadah dari 6 agama. Lalu, ada kompleks omah Petroek. Di lokasi ini terdapat ruang pertemuan, cafe Petroek, tempat beristirahat dan perpustakaan.
"Koleksi buku perpustakaan bisa diakses dan dibaca oleh pengunjung," ujarnya.
Karya "Anak Bajang Menggiring Angin" tepat berusia 40 tahun, seiring dengan itu Museum Anak Bajang diresmikan dan Sindhunata kembali menulis cerita tentang anak Bajang keduanya, berjudul "Anak Bajang Mengayun Bulan". Cerita ini bakal tayang di harian Kompas sebagai cerita bersambung selama 150 edisi.
Sindhunata berharap, diresmikannya Museum Anak Bajang bukan hanya tempat kunjungan dan klangenan. Namun lebih dari itu bisa dikonsep menjadi ruang merdeka belajar dan museum bagi masyarakat.
"Siapapun ikut miliki. Menjadi share knowledge dan share eksperimen. Jadi bukan hanya klangenan tapi sebagai langkah menuju masa depan dengan pijakan yang kita punya," kata Shindunata.
Menurut dia, berdirinya museum ini telah melalui proses panjang dan sungguh-sungguh. Dirintis sejak 20 tahun lalu, namun prosesnya telah dimulai sejak tahun 1977 melalui perjalanan Jurnalistik. (rif)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/dirjen-kebudayaan-kemendikbudristek-hilman-farid-27921.jpg)