Breaking News:

Musim Hujan Diprediksi Mulai Oktober, BPBD Gunungkidul Masih Fokus Dropping Air Bersih

Meski saat ini hujan mulai turun, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Gunungkidul masih berfokus pada penyaluran (dropping) air bersih

Penulis: Alexander Aprita | Editor: Kurniatul Hidayah
pexels.com
Ilustrasi Hujan 

TRIBUNJOGJA.COM, GUNUNGKIDUL - Meski saat ini hujan mulai turun, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Gunungkidul masih berfokus pada penyaluran (dropping) air bersih.

Sebab hingga saat ini masih ada sejumlah wilayah yang kesulitan air bersih.

Kepala Pelaksana BPBD Gunungkidul, Edy Basuki mengatakan sampai saat ini Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) baru menyampaikan informasi umum terkait prediksi datangnya musim hujan.

"Belum spesifik wilayah tertentu di Gunungkidul misalnya, untuk potensi dampak musim penghujan," jelas Edy dihubungi pada Senin (13/09/2021).

Baca juga: Cerita Lurah Hargobinangun, Dampak Penambangan Liar di Gunung Merapi yang Sebabkan Sri Sultan Marah

Berdasarkan informasi yang diterima, ia memperkirakan musim penghujan baru dirasakan pada bulan Oktober. Adapun sebelumnya, di akhir September hingga awal Oktober, akan terjadi pancaroba (masa peralihan).

Menurut Edy, pihaknya saat ini lebih mengantisipasi dampak dari masa pancaroba. Sebab biasanya di periode ini, angin bertiup kencang sehingga berpotensi menimbulkan dampak pohon tumbang.

"Kami akan bersurat ke seluruh panewu terkait pancaroba ini, sebab dampaknya bisa cukup besar," jelasnya.

Meski belum mengarah ke antisipasi bencana hidrometeorologi, Edy mengatakan persiapan tetap dilakukan. Antara lain memantau wilayah rawan longsor, bantaran sungai, kondisi luweng (gua bawah tanah), hingga dataran rendah.

Baca juga: Sri Sultan Hamengku Buwono X Geram dengan Aktivitas Tambang Ilegal di Gunung Merapi: Rusak Semua

Terkait anggaran, ia mengatakan tidak ada alokasi khusus untuk penanganan bencana hidrometeorologi. Sebab anggaran bagi BPBD Gunungkidul bersifat umum untuk periode setahun, seperti logistik permakanan hingga bantuan stimulan.

"Logistik permakanan dalam setahun anggarannya Rp 60 juta, sedangkan bantuan stimulan antara Rp 60 juta sampai Rp 70 juta," ungkap Edy.

Jika dana nantinya tak mencukupi, pihaknya akan mengandalkan anggaran Belanja Tak Terduga (BTT). Termasuk menggandeng berbagai pihak dalam penanganan dampak bencana.

Kepala Seksi Pencegahan dan Kesiapsiagaan, BPBD Gunungkidul, Agus Wibowo mengatakan Daerah Aliran Sungai (DAS) Oya jadi fokus perhatian titik rawan dampak bencana musim penghujan. Khususnya banjir.

"Selain DAS Oya, juga wilayah rawan banjir ledok Wonosari serta pesisir," ujar Agus.

Ia juga mengatakan bencana longsor hingga dampak puting beliung turut jadi perhatian. Adapun longsor berpotensi terjadi di wilayah perbukitan bagian utara dan sebagian selatan Gunungkidul. (alx)

Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved