Breaking News:

Feature

Sesaji Lengkap Wayah Dalem HB VIII Iringi Jamasan Pusaka Nogososro, Sabuk Inten, dan Sengkelat

Meja sepanjang kurang lebih 2,5 meter dipenuhi tatanan aneka macam makanan tradisional sebagai syarat sesaji tradisi jamasan pusaka.

Editor: Agus Wahyu
TRIBUNJOGJA/AGUS WAHYU
JAMASAN AGENG - Sederet sesaji sebagai sarana tradisi ritual jamasan pusaka milik RM Hertriasning, Jumat (27/8/2021). 

Meja sepanjang kurang lebih 2,5 meter dipenuhi tatanan aneka macam makanan tradisional sebagai syarat sesaji tradisi jamasan pusaka. Deretan perlengkapan sesaji ini tampak beda dibanding kebiasaan tradisi jamasan yang digelar masyarakat umum.

TAK kurang 28 jenis sajian ditata rapi berjejer di meja itu. Di antaranya, aneka makanan tradisional, nasi tumpeng robyong, nasi tumpeng urubing damar, nasi tumpeng kebuli, nasi tumpeng rasul, tumpeng gundul, ingkung ayam jago, buah-buahan dan aneka warna jenang (bubur) kelahiran.

Adalah wayah (cucu) Sri Sultan Hamengku Buwono (HB) VIII, sekaligus cucu buyut Sri Sultan HB VII, RM Hertriasning, si empunya hajat tradisi ritual yang digelar setiap bulan Suro (penanggalan Jawa) ini.

“Ini pertama kali, kami menggelar kegiatan jamasan ageng. Biasanya kami gelar hanya internal keluarga saja. Kebetulan saudara-saudara mengusulkan, kalau ada pusaka dari Ki Demang Wonopawiro Gunungkidul, sekalian saja digelar untuk membuka babar nawa Wonosantun (Wonosari),” kata Gusti Aning, sapaan akrab RM Hertriasning di kediamannya Pendopo Benawan Jalan Rotowijayan Yogyakarta, Jumat (27/8/2021).

Terkait sesaji yang disajikan secara komplit, Gusti Aning mengakui, bahwa tak banyak ditemui di masyarakat secara umum. Dimana, yang jamak dilakukan masyarakat dalam menggelar tradisi ritual jamasan tosan aji, antara lain sebatas jajanan pasar, kembang setaman, pisang sanggan, unjukan, tumpeng satu jenis.

Namun, bagi Gusti Aning, terpenting dari kegiatan ini adalah makna-makna simbolis yang telah dipesankan leluhur tentang kehidupan. Menurutnya, simbol-simbol ditampilkan dalam rangkaian sesaji itu sebuah ilmu yang diwariskan para leluhur Jawa.

“Soal makna banyak artinya, ya. Tapi, yang ingin kami sampaikan, adalah makna yang semuanya mengarah pada kehidupan, ada makna kekuatan, keselamatan, rezeki, permohonan untuk penyatuan hati, pikiran, jiwa dan raga. Juga merawat sedulur papat limo pancer, dalam spiritual Jawa, contohnya dengan adanya jenang weton (kelahiran). Ini simbol-simbol kehidupan spiritualisme,” terangnya.

Berdasarkan berbagai sumber digali Tribun Jogja, sesaji lengkap ini hanya ada dalam ritual yang digelar di dalam kraton. “Ini memang yang bisa dikonsumsikan secara umum. Karena, ada sebagian memang tak boleh dilakukan masyarakat, karena bersifat kekhususan pusaka yang hanya dimiliki kraton,” papar Gusti Aning menyinggung soal kelengkapan sesaji jamasan itu.

Ia mengakui, bahwa sebagian besar masyarakat tak menyajikan sesaji ini secara komplit karena banyak faktor. “Mungkin, karena untuk efisien waktu. Bisa jadi, juga karena efisien biaya, sebab untuk menyediakan sesaji lengkap ini memerlukan biaya besar,” katanya.

Ia juga menjelaskan, tentang makna jamasan yang ia lakukan setiap tahun sekali ini. Secara fisik jamasan ini untuk membersihkan pusaka dari segala kotoran, misalnya besi karat.

“Makna di dalamnya untuk menghargai para leluhur dan empu pembuat pusaka. Kalau makna manusianya, membersihkan diri secara lahir batin. Sekaligus, sebagai bagian khasanah kekayaan tradisi budaya tosan aji,” pemerhati budaya di Gunungkidul ini.

Ada 22 pusaka milik Gusti Aning dan 12 pusaka dari Ki Demang Wonopawiro yang diprosesi jamasan. Termasuk, pusaka keris Nogososro, Sabuk Inten, dan keris Sengkelat milik RM Hertriasning. (Agus Wahyu)

Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved