Persepsi Milenial Terhadap Donor ASI

Apabila ibu tidak dapat memberikan ASI kepada bayi nya secara pompa maupun secara langsung maka pilihannya  yaitu dengan ASI Donor

Penulis: Tribun Jogja | Editor: Ikrob Didik Irawan
Ist
Dr. Mufdlilah, M.Sc (Dosen Kebidanan Unisa Yogyakarta dan Wakil Rektor Unisa Yogyakarta) 

*Oleh:  Dr. Mufdlilah, M.Sc (Dosen Kebidanan Unisa Yogyakarta dan Wakil Rektor Unisa Yogyakarta)

ZAMAN sekarang sudah banyak cara untuk mensukseskan ASI Eksklusif, apabila ibu tidak dapat memberikan ASI kepada bayi nya secara pompa maupun secara langsung maka pilihannya  yaitu dengan ASI Donor.

Pemberian ASI Donor dapat digunakan untuk menghindari pemberian susu formula pada bayi. Realita yang ada di masyarakat, masih banyak ibu menyusui memilih susu formula dibandingkan susu donor.

Alasan memilih susu formula karena susu formula mudah didapatkan di toko – toko terdekat dibandingkan dengan mencari susu donor.

Selain itu, ibu lebih percaya untuk memberikan susu formula daripada susu donor dikarenakan kekhawatiran ibu tentang kebersihan susu donor dari penyakit (Dwiguna, 2013).

Bounding attachment adalah suatu proses sebagai hasil interaksi yang terus menerus antara bayi dan orang tua yang bersifat saling mencintai, memberikan keduanya pemenuhan emosional dan saling membutuhkan.

Donor ASI menjadi salah satu upaya untuk meningkatkan program ASI eksklusif. Praktik pemberian dan penerimaan ASI donor banyak yang masih dilakukan sendiri oleh para ibu dan keluarga.

Fatwa Majelis Ulama Indonesia Nomor 28 Tahun 2013 tentang masalah – masalah yang berkaitan dengan berbagai air susu ibu (Istiradla’) menetapkan bahwa ASI boleh untuk dibagi (di donor) harus memenuhi ketentuan bahwa ibu yang memberikan ASI harus sehat, baik fisik maupun mental dan Ibu tidak sedang hamil.

Pandangan agama dan kesehatan, ASI merupakan kebutuhan pokok bagi bayi yang harus diberikan oleh orang tua kepadanya. Namun terkadang dalam kondisi tertentu, ada ibu yang terpaksa tidak bisa memberikan ASI kepada bayinya atau ada anak yang tidak mendapatkan asupan ASI dari ibu kandungnya, baik karena terkena penyakit berbahaya, produksi ASI yang tidak lancar, kematian ibu dan lain sebagainya.

Termasuk juga bagi bayi yang sejak kecil diadopsi oleh orang tua angkat karena suatu hal. Terhadap kasus seperti ini perlu diberikan alternative lain seperti menitipkan kepada ibu lain yang sedang menyusui (donor ASI) atau Kedudukan Anak susuan antara lain memiliki hubungan kemahraman, anak hubungan susuan ini memiliki kesamaan dalam hal mahram, artinya menjadi haram dalam pernikahannya antara ibu susuan dengan anak kandung dari ibu yang menyusui karena menjadi saudara sesusuan baginya, tidak memiliki hubungan nasab, anak hubungan susuan ini tidak memiliki hubungan nasab dengan orang tua susuannya, karenanya tidak boleh menyandarkan nasabnya kepada orangtua susuannya,tidak mendapat harta waris dan wali nikah,Anak hubungan susuan tidak berhak mendapatkan harta waris dari orang tua susuannya dan juga tidak dapat diwalikan dalam pernikahannya kelak. Ketentuan ini berlaku sama seperti kedudukan anak angkat dengan orang tua angkatnya.

Rada’ah adalah sampainya ASI (Air Susu Ibu) ke perut seorang bayi yang belum berumur dua tahun. Seorang ibu yang menyusui seorang bayi (bukan anaknya) yang belum berumur dua tahun, hubungan di antara keduanya menjadi mahram karena rada’ah (susuan). 

Pemberian ASI terhadap anak adalah kewajiban orang tua, selain itu juga termasuk bagian tanggung jawab orang tua terhadap anak agar tidak meninggalkan anak dalam keadaan lemah, baik lemah iman maupun fisik. Memberikan nutrisi seperti ASI yang baik berarti orang tua telah menghindarkan keturunannya dari kelemahan fisik. Hal ini sesuai dengan spirit firman Allah SWT dalam surah An-nisa (40) : 9.

ASI merupakan suatu zat ciptaan Allah yang dapat memenuhi kebutuhan gizi bayi, karena ASI sangat kaya akan sari – sari makanan yang mempercepat pertumbuhan sel – sel otak dan perkembangan system saraf serta memiliki kualitas gizi yang terbaik. ASI mengandung nutrisi yang mencakup hampir 200 unsur zat makanan, hormon, unsur kekebalan, pertumbuhan, anti alergi, serta anti inflamasi dan paling efektif melawan kemungkinan serangan penyakit (imun) dan mencegah kematian anak.

Menurut para ahli kesehatan, ASI mengandung beberapa komponen yang sangat penting untuk nutrisi dan kekebalan tubuh bayi. ASI memiliki kandungan air sebanyak 87.5%, karenanya bayi yang mendapat cukup ASI tidak membutuhkan tambahan air walaupun berada di tempat yang bersuhu udara panas.

Kekentalan ASI sesuai dengan saluran cerna bayi, sehingga mudah dicerna oleh bayi. ASI merupakan makanan ideal bagi bayi, menyediakan nutrisi yang mereka butuhkan untuk perkembangan yang sehat dan memberikan antibodi terhadap penyakit anak seperti diare dan pneumonia yang merupakan dua factor utama kematian anak di beberapa negara.

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved