Otomotif
Restorasi Yamaha DT 100 : Motor Trail Tua Idaman Kawula Muda
Yamaha DT 100 pertama kali meluncur ke pasar otomotif dalam negeri pada tahun 1976 silam dan bersaing dengan Suzuki TS 100 dan juga Honda XL 100.
Penulis: R.Hanif Suryo Nugroho | Editor: Gaya Lufityanti
"Di sektor mesin kami meng-upgrade pengapian pakai aftermarket tipe magnet kymco, pengapian AC dengan pulser. Membran v-force thailand racing, sedangkan karburator menggunakan PWK 26 merk CPO racing. Finising poles bak magnet dan bak kopling," rinci Ishar.
Selain di bagian mesin, proses restorasi total juga dilakukan pada bagian body, frame, serta kaki-kaki.
"Bagian frame kami las ulang, kami center-kan lagi. Hal ini wajar ditemui, apalagi Yamaha DT 100 ini pada zamannya biasa dipakai untuk trabas, jadi favorit para petani untuk mengangkut hasil kebun, maupun balap motor cross. Mungkin pernah ada benturan, yang menyebabkan bagian framenya tidak center," ujar Ishar.
"Bagian kaki-kaki juga kami perbarui. Shock telescopic depan kami dapat barang new old stock. Itu pun kami dapat melalui marketplace serta diorder dari luar Jogja. Harganya pun sudah lumayan tinggi apabila dibandingkan dengan shock motor trail zaman sekarang seperti pada motor Kawasaki KLX atau D-Tracker," tambahnya.
Pada tangki, Ishar menjelaskan ada beberapa bagian yang harus diganti pelat baru dan dilas ulang karena mengalami korosi, kemudian dicat ulang serta diberi striping baru.
Adapun pada sektor kaki kaki, roda depan Yamaha DT 100 menggunakan velg berukuran 21' dan ban berukuran 275 , sedangkan ban belakang menggunakan velg ukuran 18' yang dibalut ban ukuran 300, keduanya masih mengandalakan rem tromol untuk menghentikan laju kendaraan.
"Proses restorasi sekira 2 bulan. Tantangan dalam proses restorasi sih standar saja, hanya mencari beberapa parts mulai langka di pasaran apalagi untuk Yamaha DT 100 ini motor lawas tahun 80-an," jelasnya.
Baca juga: Transformasi Yamaha SR400 Bergaya Old School Tulen
Naik Daun
Meski tergolong motor yang diproduksi massal, namun pengguna Yamaha DT 100 pada zamannya memang cukup tersegmentasi.
Tak heran bila populasinya memang terbatas, di tengah banyaknya jumlah peminat.
"Faktanya, di media sosial banyak orang yang menjadikan motor ini maupun motor lawasan lainnya sebagai konten. Akhirnya, banyak orang yang kembali melirik motor trail lawas ini, akhirnya kini banyak diburu," kata Ishar.
"Seiring permintaan tinggi, tapi stok barangnya hanya itu saja, otomatis harganya melambung tinggi," lanjutnya.
"Sebenarnya Yamaha DT 100 ini pada zamannya diproduksi secara massal, namun segmented. Orang yang memiliki motor ini biasanya memang spesifik menggunakannya untuk trabas, balapan motor cross, bahkan digunakan pula untuk keperluan instansi dinas kehutanan dan semacamnya. Jadi, Yamaha DT ini memang bukan motor yang full digunakan untuk keperluan harian sewaktu itu," tutupnya. ( Tribunjogja.com )