Agar Semakin Dikenal Masyarakat, Desa Wisata di Kota Yogyakarta Dituntut Lebih Narsis

Pandemi Covid-19 yang berkepanjangan membuat desa wisata di seantero Yogyakarta, atau bahkan lingkup Joglosemar mengalami keterpurukan

Penulis: Azka Ramadhan | Editor: Kurniatul Hidayah
TRIBUNJOGJA/ Azka Ramadhan
Suasana diskusi BOB Talk yang digulirkan Badan Otorita Borobudur di Kota Yogyakarta, Jumat (20/8/2021). 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Pandemi Covid-19 yang berkepanjangan membuat desa wisata di seantero Yogyakarta, atau bahkan lingkup Joglosemar mengalami keterpurukan.

Karena itu, berbagai langkah harus ditempuh, demi kebangkitan. 

Direktur Pemasaran Pariwisata Badan Otorita Borobudur (BOB), Agus Rochiyardi menyampaikan, banyak tantangan yang harus dihadapi desa wisata, di tengah situasi sulit ini.

Bagaimanapun, ujarnya, mereka tak boleh menyerah. 

Baca juga: Presiden Jokowi Sebut Perkembangan Virus Corona Sulit Diprediksi

"Pandemi memang membuat kita ngos-ngosan, agar bisa bertahan hidup. Sekarang tidak hanya makan tabungan, ya, tapi sudah mulai makan aset," katanya, seusai agenda BOB Talk yang bergulir Kota Yogyakarta, Jumat (20/8/2021). 

Ia menuturkan, desa wisata di Yogyakarta, atau di seluruh Joglosemar sebenarnya mempunyai nilai lebih dalam hal letak geografis. Bagaimana tidak, dengan lokasi tepat di tengah Pulau Jawa, mereka sangat mudah dijangkau. 

Akan tetapi, agar potensi yang dimiliki desa wisata bisa diketahui masyarakat secara luas, Agus meminta, supaya para pengelola bisa lebih kreatif terkait pemasarannya. Sehingga, pelancong pun tergerak mengunjunginya. 

"Potensi desa wisata di Joglosemar juga luar biasa. Punya lanskap dan kebudayaan yang mumpuni. Hanya perlu lebih narsis, agar semakin dikenal wisatawan," cetusnya. 

Guna mendorongnya, BOB pun menggelar lomba menulis, yang diikuti 225 peserta, dan terpilih 32 naskah terbaik. Peserta dipersilakan mengeksplorasi 16 desa wisata, di wilayah Yogyakarta, Magelang, hingga Purworejo. 

'Percepatan Pertumbuhan Sosial Ekonomi untuk Menuju Desa Wisata Mandiri' diusung jadi tema utama. Ia berharap, tulisan itu memunculkan semangat, serta mempercepat pertumbuhan kondisi sosial ekonomi desa wisata. 

Baca juga: Pemkab Gunungkidul Dorong IKM Lokal Inovatif Agar Bertahan di Masa Pandemi

"Lomba ini kami kreasikan untuk semakin mengenalkan potensi desa wisata kepada masyarakat, sekaligus untuk mengembangkan, agar segera jadi desa wisata mandiri. Antusiasmenya pun sangat tinggi," ungkap Agus. 

Dalam kesempatan tersebut, Ketua Forum Desa Wisata DI Yogyakata, Doto Yogantoro mengatakan bahwa dorongan seperti ini sangat diperlukan. Pasalnya, dari 150 dewis di Yogyakarta, baru 33 saja yang berstatus mandiri. 

"33 desa wisata mandiri itu tersebar di empat kabupaten, satu kota. Tapi, yang telah terverifikasi desa berkelanjutan baru tiga di Yogyakarta, masing-masing di Kulonprogo, Sleman dan Gunungkidul," pungkas Doto. (aka)

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved