PSIM Yogyakarta
Gabung PSIM Yogyakarta, Imam Arief Selalu Ingin Dilatih Seto Nurdiyantoro
Kiper senior PSIM Yogyakarta, Imam Arief Fadilah mengaku dilatih oleh Seto Nurdiyantoro merupakan mimpi yang menjadi kenyataan.
Penulis: Taufiq Syarifudin | Editor: Kurniatul Hidayah
TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Kiper senior PSIM Yogyakarta, Imam Arief Fadilah mengaku dilatih oleh Seto Nurdiyantoro merupakan mimpi yang menjadi kenyataan.
Sepanjang karirnya menjadi pesepakbola, Imam sebelumnya lebih kerap berseberangan dengan Seto. Ia menceritakan awal mula pertemuannya pada tahun 2009 silam, saat masih membela Persitara Jakarta Utara dan Seto saat masih aktif menjadi pemain PSIM.
Dari sana, Imam mulai mengagumi sosok pelatih yang pernah mencicipi bermain untuk Timnas Indonesia itu.
"Waktu itu saya masih 19 tahun, lihat beliau (Seto Nurdiyantoro) pas jadi kapten saya kagum sekali, apalagi waktu menjadi pelatih, dia salah satu pelatih bertangan dingin di Indonesia," kata Imam saat berbincang dengan Tribun Jogja, Selasa (3/8/2021).
Kekagumannya terhadap sosok pelatih asal Kalasan, Sleman itu tak hanya sampai di sana, beberapa kali ketika mentas di Liga 1, Imam kerap berhadapan dengan skuat yang ditukangi Seto.
Dari jauh pemain berusia 31 tahun ini hanya bisa bergumam, "Kapan saya bisa dilatih oleh beliau?" ujarnya dalam hati.
Baca juga: Tercatat Selama Enam Bulan, Terdapat 597 Perempuan dan Anak di DIY Mengalami Kekerasan
Musim 2021 ini ternyata menjadi berkah bagi Imam, mulanya ia sempat ditawari oleh dua klub Liga 1, namun jawabannya jatuh di klub Liga 2, PSIM Yogyakarta.
Selanjutnya, mengidolai sosok Seto Nurdiyantoro tak lantas membuat Imam bercita-cita sebagai pelatih kelak selepas pensiun. Ia lebih memilih terjun ke manajemen tim sesuai apa yang telah dipelajarinya di bangku kuliah di jurusan manajemen.
"Saya tidak mau kalau jadi pelatih, mending ke bagian manajemennya saja," jelasnya,
Selain itu, Imam lebih tertantang untuk berbisnis. Kini ia dan istri telah membuka bisnis kuliner ayam geprek di kawasan Manonjaya, Tasikmalaya. Rencananya, bisnis tersebut akan dijadikan investasi ke depan setelah tidak lagi menjadi profesional di sepak bola.
Adapun, faktor kepindahan Imam selain ingin dilatih Seto, ada pula peran dua pemain PSIM yang sudah bergabung lebih dulu, Purwaka Yudhi dan Ahmad Subagja Baasith menjadi salah satu kunci suksesnya Imam berpindah ke Laskar Mataram, julukan PSIM.
"Saya dihubungi oleh kedua rekan saya itu, mereka kasih saya banyak informasi soal PSIM dan Yogyakarta, tentu saya tertarik. Apalagi jarak Yogya dan kampung halaman saya Tasikmalaya tidak jauh, ketimbang harus ke Jawa Timur," bebernya eks kiper Persebaya Surabaya ini.
Sebelum berlabuh ke PSIM Yogyakarta, bapak satu anak ini sempat memperkuat Sriwijaya FC pada musim 2020. Di sana ia belum sempat berlama-lama, lantaran sepak bola Indonesia harus vakum akibat pandemi Covid-19.
Gegar Budaya
Imam boleh disebut sebagai pemain yang punya segudang pengalaman dan sudah malang melintang di klub-klub ternama Indonesia, seperti Persib Bandung, Persitara Jakarta Utara, Persebaya Surabaya, PSM Makassar, Barito Putera, hingga Sriwijaya FC.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/imam-arief-fadillah-482021.jpg)