Breaking News:

Pemda DIY Jadikan Hotel Mutiara Isoter Pasien Covid-19

Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) akan memanfaatkan Hotel Mutiara sebagai tempat isolasi terpusat (isoter) bagi pasien Covid-19.

Editor: Agus Wahyu
TRIBUNJOGJA/ Yuwantoro Winduajie
MELINTAS - Sejumlah warga melintas di depan Hotel Mutiara yang akan dijadikan sebagai tempat isolasi terpusat (isoter) bagi pasien Covid-19. 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) akan memanfaatkan Hotel Mutiara sebagai tempat isolasi terpusat (isoter) bagi pasien Covid-19. Nantinya, tempat isolasi ini bisa menampung pasien bergejala ringan maupun tanpa gejala.

Sekretaris Daerah (Sekda) DIY, Kadarmanta Baskara Aji mengungkapkan, hotel yang tahun lalu dibeli seharga Rp170 miliar itu akan menjadi cadangan. Hal ini jika isoter yang ada di DIY berada dalam kondisi penuh.

Pihaknya pun telah menunda pelaksanaan proyek pengembangan bangunan eks Hotel Mutiara sebagai sentra usaha mikro kecil dan menengah di Maloboro. "Ini untuk cadangan kalau nanti di tempat lain tidak memungkinkan," terang terang Aji di kantornya, Senin (2/8).

Menurutnya, Pemda DIY belum memiliki rencana untuk menjadikan Hotel Mutiara sebagai rumah sakit darurat. Sebab, hotel tersebut terletak di Kawasan Malioboro yang juga menjadi pusat perkotaan.

Pendirian rumah sakit darurat di kawasan padat penduduk dinilai beresiko karena rumah sakit Covid-19 memiliki tingkat infeksius yang tinggi. "Tapi kalau penilaian pusat ini juga memungkinkan (dijadikan RS darurat) ini bisa dibahas lagi. Yang pasti ini kita siapkan untuk isoter," jelasnya.

Aji melanjutkan, hotel lawas tersebut terdiri dari dua bangunan. Di sisi utara diprediksi memiliki kapasitas sebanyak 80 tempat tidur untuk menampung pasien Covid-19. Sedangkan bangunan selatan daya tampungnya lebih luas yakni sekitar 130 hingga 140 tempat tidur.

Jika isoter beroperasi, maka akan dilakukan pengawasan ketat terkait mobilitas warga maupun wisatawan di sana. "Tempatnya untuk isoter tidak jadi persoalan karena nanti ada pengawasan. Orang tidak boleh keluar masuk dan nanti ada pengamanannya supaya tidak ada moblitas," jelasnya.

Wakil Ketua DPRD DIY, Huda Tri Yudiana, mengatakan, kalangan parlemen selalu menegaskan agar pemerintah DIY mengoptimalkan fasilitas umum (fasum) yang dikelola pemerintah. Alasannya, para dewan merasa prihatin atas situasi pandemi Covid-19 di DIY, terutama banyaknya pasien positif Covid-19 yang meninggal dunia saaat menjalani isolasi mandiri.

"Kami selalu mengatakan supaya fasum milik pemda itu dioptimalkan atas situasi yang darurat sekarang ini. Saya prihatin banyaknya kasus meninggal saat isoman," katanya.

Adanya rencana penggunaan hotel Mutiara untuk tempat isolasi terpantau itu dinilai tepat. Apalagi saat ini pemanfaatan hotel Mutiara masih belum difungsikan oleh pemerintah DIY.

Anggota Komisi A DPRD DIY, Andriana Wulandari, mengatakan, pihaknya juga menudukng upaya pemerintah DIY memanfaatkan hotel Mutiara untuk tempat isolasi terpantau.

"Saya mendukung jika memang tidak ada pelanggaran aturan. Mengingat peruntukannya kan dulu untuk sentra UMKM," pungkasnya.  (hda/tro)

Baca Tribun Jogja edisi Selasa 3 Agustus 2021 halaman 05.

Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved