Sebanyak 7 Ibu Hamil dan Melahirkan di Gunungkidul Meninggal Dunia Selama Pandemi 2021
Ibu hamil dan melahirkan menjadi salah satu kelompok rentan terpapar COVID-19 di masa pandemi ini. Tak hanya mengancam nyawa, bayi yang dilahirkan
Penulis: Alexander Aprita | Editor: Kurniatul Hidayah
TRIBUNJOGJA.COM, GUNUNGKIDUL - Ibu hamil dan melahirkan menjadi salah satu kelompok rentan terpapar COVID-19 di masa pandemi ini. Tak hanya mengancam nyawa, bayi yang dilahirkan pun berpotensi terpapar.
Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Gunungkidul Dewi Irawaty mengungkapkan setidaknya ada 7 kasus kematian ibu hamil dan melahirkan di masa pandemi COVID-19.
"Sejauh ini tercatat ada 7 kasus kematian, yang mana 1 sampai 2 kasus terkonfirmasi positif," kata Dewi, Selasa (28/07/2021).
Baca juga: Angka Kematian Pasien Isoman di DIY Tinggi, Sri Sultan Hamengku Buwono X: Bergejala Angkut ke Selter
Menurutnya, seluruh kasus kematian tersebut dilaporkan terjadi pada 2021 ini. Sedangkan untuk 2020, kasus kematian ibu hamil dan melahirkan saat pandemi terbilang nihil.
Dewi menjelaskan, kematian ibu hamil terjadi tidak hanya karena terpapar COVID-19. Tapi juga faktor penyebab lain seperti penyakit bawaan atau saat proses persalinan (melahirkan).
"Seperti ada pendarahan dan infeksi pada saat sebelum atau sesudah persalinan," ujarnya.
Menurut Dewi, klaster keluarga menjadi pemicu utama kelompok ibu hamil terpapar COVID-19. Sulitnya penerapan protokol kesehatan (prokes) di lingkungan rumah dan keluarga juga jadi penyebab.
Ia mengakui kematian ibu hamil baru meningkat di tahun ini. Hal ini berkaitan dengan kemampuan layanan di fasilitas kesehatan (faskes) yang terbatas, tak jarang para ibu yang akan melahirkan harus masuk dalam antrean.
Baca juga: Anggaran Rp370 Juta dari Danais Digunakan untuk Penunjang Vaksinasi Pelaku UKM dan UMKM
"Sebelumnya yang bisa menangani persalinan dengan status konfirmasi positif hanya RSUD (Wonosari)," ungkap Dewi.
Sejauh ini, sudah ada 2 puskesmas yang diarahkan untuk menangani persalinan dengan status konfirmasi positif. Keduanya adalah Puskesmas Semin I dan Rongkop.
Mekanismenya, bagi ibu dengan konfirmasi positif akan ditangani dengan prosedur khusus. Sedangkan yang hasilnya negatif akan menjalani prosedur persalinan standar.
"Sebelum proses persalinan akan dites COVID dulu. Ke depan jumlah puskesmas yang menangani persalinan konfirmasi positif akan kami tambah," kata Dewi. (alx)