Epidemilog UI Pertanyakan Turunnya Jumlah Testing Spesimen di Tengah Penurunan Kasus Covid-19
Epidemilog UI Pertanyakan Turunnya Jumlah Testing Spesimen di Tengah Penurunan Kasus Covid-19
TRIBUNJOGJA.COM, JAKARTA - Rendahnya testing atau pemeriksaan sampel pasien Covid-19 dalam beberapa hari terakhir dipertanyakan oleh Epidemiolog UI Pandu Riyono.
Sebab, jumlah testing ini seharusnya mlah ditingkatkan di tengah pandemi Covid-19 yang angka penularannya masih cukup massif ini.
"Enggak boleh menurun (jumlah testing) disengaja atau tidak, ada manuver enggak? Supaya tanggal 26 Juli (PPKM) bisa dilonggarkan?," kata Pandu seperti yang dikutip Tribunjogja.com dari Kompas.com dalam artikel berjudul "Pertanyakan Jumlah Kasus Covid-19 dan Testing Turun, Epidemiolog: Supaya 26 Juli Bisa Dilonggarkan?".
Dia mengatakan angka penularan Covid-19 dalam beberapa hari terakhir ini mengalami penurunan dibandikan pekan lalu.
Namun penurunan angka penularan Covid-19 tersebut diikuti dengan menurunnya jumlah testing yang dilaksanakan oleh pemerintah.
Hal itu menurut Pandu seharusnya menjadi perhatian dari Presiden Jokowi.
Presiden sebagai kepala negara seharusnya mencari tahu mengapa jumlah testing sampel pasien ini mengalami penurunan.
Sebab, testing sampel pasien ini seharunya yang menjadi acuan bagai pemerintah untuk menentukan kebijakan apa yang harus diambil dalam penanganan pandemi Covid-19 di Indonesia saat ini.
"Itu yang saya harapkan dari presiden, (tapi) ternyata tidak. Yang dipilih hanya kasus yang menurun, enggak dicari tahu kenapa itu kasus bisa menurun, seolah-olah itu hasil dari PPKM," ujarnya.
"Kalau itu diambil untuk keputusan, jadi tidak akurat kan," sambungnya.
Baca juga: Indonesia Peringkat ke 14 dari 220 Negara yang Terpapar Virus Corona
Baca juga: BREAKING NEWS : Duka dari Bantul, Seorang Nakes RSUD Panembahan Senopati Gugur Terpapar Covid-19
Lebih lanjut, Pandu menilai, kasus harian Covid-19 di Indonesia saat ini masih meningkat.
Ia mengatakan, jika keterisian tempat tidur di rumah sakit masih meningkat dan kasus kematian masih tinggi, maka tidak benar kasus Covid-19 mengalami penurunan.
"Maka dilihat juga angka rumah sakit, kalau angka RS dan kematian masih tinggi jangan percaya kasus turun," pungkasnya.
Sebelumnya diberitakan, kasus harian Covid-19 mengalami penurunan seiring dengan menurunnya jumlah tes Covid-19 yang terdata pemerintah.
Data dan fakta itu menunjukkan sangat prematur jika menyatakan bahwa pandemi sudah terkendali.
Data dari Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Covid-19 hingga Rabu (21/7/2021) menunjukkan sebanyak 33.772 penambahan kasus terkonfirmasi posotif dalam sehari, sehingga totalnya menjadi 2.983.830 kasus.
Sementara, jumlah pasien meninggal akibat terpapar Covid-19 bertambah 1.383 kasus, sehingga totalnya menjadi 77.583 kasus.
Adapun pasien yang sembuh setelah terpapar Covid-19 mencapai 32.887 kasus, maka totalnya menjadi 2.356.553 kasus.
Sebanyak 33.772 kasus positif tersebut didapatkan dari pemeriksaan 153.330 spesimen yang diambil dari 116.232 orang.
Pemeriksaan (testing) Covid-19 dilakukan dengan tes swab polymerase chain reaction (PCR), tes cepat molekuler (TCM), dan rapid antigen.
Berdasarkan pemeriksaan tersebut, positivity rate dengan menggunakan PCR 38,64 persen dan secara total 29,06 persen.
Pekan lalu, atau sejak Rabu (14/7/2021) hingga Sabtu (17/7/2021), penambahan kasus harian Covid-19 selalu melewati 50.000.
Jumlah testing pada hari-hari itu juga tak kurang dari 240.000 spesimen. Kasus mulai turun dan tak lagi melewati 50.000 pada Minggu (18/7/2021).
Bahkan beberapa hari belakangan kurang dari 35.000 seiring dengan anjloknya testing. (*)