Breaking News:

Kota Yogyakarta

Terdampak PPKM Darurat, Pemkot Yogya Berikan Relaksasi Retribusi untuk Pedagang Pasar Tradisional

Besaran keringanan retribusi berkisar 25-75 persen, tergantung operasional pasar selama penerapan PPKM Darurat ini.

Penulis: Azka Ramadhan | Editor: Gaya Lufityanti
TRIBUNJOGJA.COM / Suluh Pamungkas
Berita Kota Yogya 

TRIBUNJOGJA.COM - Pedagang di sejumlah pasar tradisional di Kota Yogyakarta memperoleh relaksasi retribusi selama PPKM Darurat 3-20 Juli 2021.

Pasalnya, beberapa pasar tradisional yang menjual komoditas non esensial memang diminta tutup sementara.

Kabid Pasar Rakyat Dinas Perdagangan Kota Yogyakarta, Gunawan Nugroho Utomo mengatakan, besaran keringanan retribusi berbeda antara satu dengan yang lain.

Yakni, di kisaran 25-75 persen, tergantung operasional pasar selama penerapan PPKM Darurat ini.

Baca juga: Pemkot Yogya Kembali Terapkan Relaksasi Retribusi di 30 Pasar Tradisional

Mereka yang mendapat keringanan retribusi 75 persen adalah pedagang di Pasar Beringharjo Barat dan Pusat Bisnis Beringharjo yang menjual pakaian dan souvenir.

Kemudian, Pasad Klithikan yang berisi pedagang barang bekas, serta Pasar Satwa dan Tanaman Hias.

"Jadi, beberapa pasar itu memang diminta tutup saat PPKM Darurat, karena tidak menjual barang-barang yang esensial. Sehingga, diberi keringanan retribusi 75 persen di bulan Juli," katanya, Senin (20/7/2021).

Sementara untuk pasar tradisional lain yang diisi para pedagang yang menjajakan kebutuhan pokok dan masih bisa beroperasi selama PPKM Darurat, memperoleh pengurangan retribusi 25 persen.

Sebab, meski tetap berjualan, omzet mereka menurun drastis.

"Ya, karena omzet mereka mengalami penurunan, jadi kami tetap memberikan relaksasi retribusi untuk pedagang pasar tradisonal yang menjual kebutuhan pokok. Tapi, besarannya tentu berbeda," terangnya.

Baca juga: Pemkot Yogya Atur Lalu Lintas Transaksi di Pasar Tradisional

"Semoga ini bisa meringankan beban pedagang, karena selama PPKM Darurat kan ada pembatasan jumlah pedagang di pasar juga, maksimal 50 persen," imbuhnya.

Lebih lanjut, Gunawan menjelaskan, sejatinya relaksasi retribusi semacam ini sudah digulirkan sejak tahun 2020 lalu, di beberapa pasar tradisional.

Namun, program ini dihentikan saat memasuki Januari 2021, karena geliat perkonomian perlahan mulai bangkit.

"Tapi, pada Februari sampai dengan saat ini, kami kembali memberikan relaksasi retribusi, rata-rata ada pengurangan 25 persen," katanya. ( Tribunjogja.com )

Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved