DIY dan DKI Jakarta Diprediksi Bakal Alami Dampak Berat Bila Lonjakan Covid-19 Terus Terjadi
DIY dan DKI Jakarta diprediksi akan mengalami dampak paling berat jika terjadi lonjakan kasus sebesar 30 persen dalam waktu 1-2 minggu ke depan.
TRIBUNJOGJA.COM - Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) disebut akan mengalami dampak berat bila kasus Covid-19 terus mengalami lonjakan.
Hal itu disampaikan oleh Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin, Selasa (13/7/2021).
Seperti diketahui, kasus harian Covid-19 di Indonesia memang terbilang masih tinggi.
Bahkan, beberapa kali penambahan kasus harian Covid-19 di Indonesia mencatatkan rekor tertinggi.
Baca juga: Penjelasan Menkes Budi Gunadi soal Penundaan Vaksinasi Berbayar dari Kimia Farma
Baca juga: Sehari, Petugas Pemulasaran di Sleman Tangani 20 Jenazah Covid-19, 18 Orang Meninggal di Rumah
Terbaru, tambahan kasus harian Covid-19 di Indonesia mencapai lebih dari 40 ribu kasus baru pada Senin (12/7/2021) kemarin.
Angka tersebut merupakan catatan kasus harian tertinggi sepanjang pandemi Covid-19 yang melanda Indonesia sejak Maret 2020 lalu.
Menurut Menkes, DIY dan DKI Jakarta diprediksi akan mengalami dampak paling berat jika terjadi lonjakan kasus sebesar 30 persen dalam waktu 1-2 minggu ke depan.
Sebab, tingkat keterisian tempat tidur khusus pasien Covid-19 di dua provinsi tersebut sudah sangat tinggi sehingga diperkirakan akan kekurangan tempat tidur.
"Kalau ada perburukan terus sebesar 30 persen kira-kira atau kita kira-kira sekitar 2-3 persen per hari, itu yang berat adalah Yogyakarta dan DKI Jakarta karena akan kekurangan tempat tidur isolasi dan akan kekurangan tempat tidur untuk ICU," kata Budi dalam rapat dengan Komisi IX DPR, Selasa (13/7/2021).
Budi mengatakan, pemerintah sudah menyiapkan dua strategi berbeda di kedua daerah bila kemungkinan buruk itu terjadi.
Di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), pemerintah berencana mengonversi tempat tidur rumah sakit untuk dijadikan tempat tidur khusus bagi pasien Covid-19.
Budi mengatakan, tingkat keterisian tempat tidur (bed occupancy rate/BOR) di Yogyakarta memang terbilang tinggi yakni di angka 91 persen.
Namun, angka tersebut dapat ditekan apabila jumlah tempat tidur bagi pasien Covid-19 ditambah dengan melakukan konversi.
"Jadi Yogya dari 8.247 tempat tidur baru 2.000-an didedikasikan untuk Covid jadi naik 4.000, karena begitu dia naik jadi 4.000, tekanan BOR-nya turun dari 90 mungkin ke 60 persen," kata Budi.
Baca juga: Peta Sebaran Covid-19 di Indonesia dalam 24 Jam Terakhir: Catat Rekor Tertinggi, Berikut Rinciannya
Baca juga: Angka Kesembuhan Pasien Covid-19 di Gunungkidul Capai 6.280 Orang
Sementara, strategi penanganan di ibu kota akan dilakukan dengan mengubah rumah sakit berkapasitas besar untuk dijadikan rumah sakit khusus Covid-19.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/budi-gunadi-sadikin-ditunjuk-jokowi-sebagai-menteri-kesehatan-menggantikan-terawan-agus-putranto.jpg)