Tegas, Presiden Terpilih Iran Ebrahim Raisi Tolak Bertemu Joe Biden
Tegas, Presiden Terpilih Iran Ebrahim Raisi Tolak Bertemu Joe Biden untuk Membicarakan Negosiasi Nuklir
TRIBUNJOGJA.COM, TEHERAN - Presiden terpilih Iran, Ebrahim Raisi melakukan konferensi pers pertamanya setelah resmi memenangi pemilu Iran beberapa waktu yang lalu.
Di kesempatan konferensi pers perdananya, Raisi menyinggung soal Amerika Serikat.
Dia menegaskan dirinya menolak bertemu dengan Presiden AS Joe Biden meskipun negara seterunya itu mencabut semua sanksi terhadap negaranya.
Raisi yang merupakan mantan hakim konservatif tersebut mengaku saat ini fokus pemerintahannya adalah memperbaiki hubungan diplomasi dengan negara-negara di teluk.
Selain itu, dalam kesempatan konferensi pers perdananya, Raisi memperingatkan musuh bebuyutan Arab Saudi untuk menghentikan intervensi militer di Yaman.
Raisi yang berusia 60 tahun akan menggeser tokoh reformis, Hassan Rouhani, pada 3 Agustus mendatang.
Sebagaimana perdana menteri saat ini, dia pun memprioritaskan pencabutan sanksi yang melumpuhkan ekonomi, terutama demi pemulihan pasca-pandemi.
"Kami mendukung proses negosiasi yang menjamin kepentingan nasional kami. Amerika sebaiknya segera kembali ke Perjanjian Nuklir 2015 dan memenuhi komitmennya sesuai isi kesepakatan,” kata Raisi yang termasuk ke dalam daftar pejabat Iran yang dikenakan sanksi AS.
Baca juga: Mengenal Sosok Ebrahim Raisi, Presiden Terpilih Iran Pengganti Hassan Rouhani
Baca juga: Begini Taktik Kapal Hantu Iran Jual Minyak dari Pasar Gelap ke China, Manipulasi Data GPS
Sejak April silam, kedua negara secara tidak langsung menegosiasikan perjanjian nuklir di Wina, Austria, bersama dengan Uni Eropa, Rusia dan China.
Raisi mengatakan kebijakan luar negeri Iran tidak akan bergantung pada Perjanjian Nuklir 2015.
Namun dia mendesak bahwa "semua sanksi AS harus dicabut dan diverifikasi oleh Teheran.”
Kekuasaan di tangan Khamene
Untuk menggandakan tekanan, Iran secara perlahan melanggar batasan pemerkayaan uranium sesuai perjanjian.
Batasan itu didesain untuk mencegah Iran mengembangkan senjata nuklir.
Teheran sebaliknya bersikeras program atomnya murni untuk keperluan sipil, bukan militer.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/mengenal-sosok-ebrahim-raisi-presiden-terpilih-iran-pengganti-hassan-rouhani.jpg)