Breaking News:

Kantor Imigrasi Kelas I TPI Yogyakarta Telah Deportasi 6 WNA Hingga Juni 2021

Meski tidak ada penerbangan internasional yang masuk ke Yogyakarta, namun Kantor Imigrasi Kelas I TPI Yogyakarta tetap memantau pergerakan warga

Penulis: Santo Ari | Editor: Kurniatul Hidayah
TRIBUNJOGJA.COM / Suluh Pamungkas
ilustrasi 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Meski tidak ada penerbangan internasional yang masuk ke Yogyakarta, namun Kantor Imigrasi Kelas I TPI Yogyakarta tetap memantau pergerakan warga negara asing (WNA).

Di tahun 2021, sudah ada warga negara asing (WNA) yang melakukan pelanggaran izin tinggal dan telah dijatuhi tindakan administrasi keimgirasian berupa deportasi.

Kepala Kantor Imigrasi Kelas I TPI Yogyakarta Andry Indrady menjelaskan, di tahun 2021 hingga bulan Juni ini, sudah ada enam orang asing yang dilakukan deportasi. Mereka berasal dari Nigeria, Timor Leste, Vietnam dan Malaysia.

Baca juga: Sekda DIY Sebut Peningkatan Kasus Covid-19 Disebabkan Ada Banyak Pelanggar Aturan PPKM Mikro

Rata-rata mereka yang dideportasi karena overstay. Namun ada juga yang dideportasi setelah sebelumnya bermasalah dan sempat mendapat hukuman kurungan penjara di Lapas Yogyakarta, WNA tersebut berasal dari Timor Leste dan telah dipulangkan ke negaranya pada awal tahun ini.  

"Kalau pemilik izin tinggal di Yogyakarta, untuk orang asing sekitar 2.000-an. Untuk mahasiswa asing kebanyakan sudah pulang kembali ke negaranya. Tapi (yang masih di Yogyakarta) orang yang punya saudara, atau kerja di Jogja itu sekitar 2.000-an orang," ungkapnya Senin (14/6/2021).

Maka dari itu, ia berharap agar masyarakat Yogyakarta dapat lebih berperan aktif dalam melaporkan keberadaan orang asing, terkhusus bagi hotel maupun penginapan, maupun pemilik kos.

Apalagi saat ini Imigrasi telah meluncurkan APOA (Aplikasi Pendataan Orang Asing) berbasis QR Code.

Di mana pemilik hotel, penginapan atau kos-kosan bisa lebih mudah melaporkan keberadaan orang asing dengan cukup scan barcode yang ada di paspor orang asing tersebut.

Andry menceritakan, di tahun ini pihaknya telah menjaring dua orang warga negara Nigeria atas dasar laporan dari masyarakat.

"Warga Nigeria ini bisa tinggal di sebuah kos-kosan tanpa paspor. berarti ibu kos ini, mohon maaf, hanya melihat dari sisi materi saja. Tapi dia lupa, dampak dari keberadaan orang asing ini jangan-jangan pengedar narkoba, skimming atau yang nipu-nipu orang," ungkapnya.

Halaman
12
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved