Mulai Digunakan di Sleman, Vaksin AstraZeneca Disebut Miliki Prosentase KIPI Lebih Besar 

Pemerintah Kabupaten Sleman mulai menggunakan vaksin AstraZeneca untuk vaksinasi ribuan pedagang pasar. Target sasarannya, sekitar 10 ribu orang.

Tayang:
Penulis: Ahmad Syarifudin | Editor: Kurniatul Hidayah
TRIBUNJOGJA/ Ahmad Syarifudin
Petugas medis sedang bersiap untuk mengambil vaksin AstraZeneca saat vaksinasi massal di GOR Sleman, Rabu (9/6/2021) 

TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN - Pemerintah Kabupaten Sleman mulai menggunakan vaksin AstraZeneca untuk vaksinasi ribuan pedagang pasar.

Target sasarannya, sekitar 10 ribu orang. Vaksin dari perusahaan farmasi asal Inggris ini sejauh ini dinilai aman. Tidak jauh berbeda dengan jenis Sinovac.

Namun, berdasarkan pengalaman, Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI) dianggap memiliki prosentase lebih besar. 

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, Dinas Kesehatan Sleman, Novita Krisnaeni mengatakan, vaksin Sinovac maupun AstraZeneca sama-sama halal. Tingkat keamanannya juga sama.

Namun, dari segi jumlah, KIPI yang dialami setelah disuntik vaksin AstraZeneca lebih besar dibanding Sinovac.

Berdasarkan pengalaman, prosentasenya mencapai 10-15 persen. Kejadian ikutan yang dialami contohnya seperti panas, pusing, mual hingga diare. 

Baca juga: UGM Jadi Universitas Terbaik di Indonesia Versi QS WUR 2022, Peringkat 250-an Sedunia

"Tapi itu masih bisa ditangani tenaga kesehatan," kata dia, ditemui saat kegiatan vaksinasi massal bagi pedagang pasar di GOR Sleman, Rabu (9/6/2021).

Novita mengatakan, kejadian ikutan biasanya tidak langsung dirasakan dalam kurun 15-30 menit pertama setelah disuntik vaksin.

KIPI yang langsung dirasakan, kata dia, jumlahnya relatif sedikit. Ia menganalogikan, dari seribu orang yang disuntik, hanya sekitar 5 orang yang langsung merasakan KIPI.

Selebihnya, pasien merasakan kejadian ikutan paling banyak setelah berada dirumah. Mereka merasakan badan panas, kepala pusing, perut mual hingga diare. 

Baginya, kejadian itu dinilai masih aman.

"Lama (KIPI) biasanya 2-3 hari," kata Novita.

Diketahui, ribuan pedagang pasar di Kabupaten Sleman menjalani vaksinasi massal dosis pertama di Gedung Olahraga (GOR), Tridadi, Kabupaten Sleman.

Vaksinasi massal menyasar untuk dua ribu pedagang dan dilaksanakan selama dua hari. Rencananya kegiatan serupa juga akan dilakukan serentak di 11 lokasi lainnya, selama bulan Juni.

Sehingga diharapkan lebih cepat menjangkau kepada semua pedagang pasar. 

"Target sasaran kita bulan Juni ini untuk 10 ribu pedagang pasar," kata Novita. 

Vaksinasi massal untuk pedagang pasar Sleman 1 dan 2, maupun pasar Denggung itu mulai menggunakan AstraZeneca. Hal ini berbeda dibanding dua pasar sebelumnya, yaitu pasar Gentan dan Sambilegi yang memakai Sinovac. 

Vaksin AstraZeneca, menurut Novita aman digunakan untuk usia di atas 18 tahun. Hanya memang kejadian ikutan pasca imunisasi (KIPI) lebih sedikit kasusnya pada usia diatas 50 tahun.

Ia mengungkapkan, vaksin AstraZeneca dan Sinovac sama-sama halal dan aman digunakan. Perbedaan ada di bahan baku pembuatan. 

Vaksin Sinovac dibuat dengan melibatkan semua komponen Virus. Sedangkan AstraZeneca dibuat menggunakan inti bagian virus.

Kemudian, perbedaan lain ada pada interval. Sinovac intervalnya 28 hari sementara AstraZeneca lebih panjang, mencapai 12 minggu atau 3 bulan. 

"Skrining sebelum menggunakan AstraZeneca juga lebih ketat. Kami sangat hati-hati terhadap orang-orang dengan pemilik riwayat gangguan darah," kata dia. 

Sekretaris Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Sleman, Haris Murtapa mengatakan, jumlah keseluruhan pedagang pasar di Bumi Sembada ada 14 ribu orang dari 43 pasar. Yang sudah mendaftar vaksin melalui aplikasi, ada 10 ribu.

Selebihnya, ada yang sudah menerima vaksin melalui jalur lansia. Kemudian, ada juga yang sudah divaksin lebih awal seperti di Gentan dan Sambilegi. 

Sebagian lainnya, kata dia, masih ada sejumlah pedagang yang belum mendaftar vaksin. Bukan karena takut melainkan karena keterbatasan, tidak bisa menggunakan handphone.

Petugas pemandu di masing-masing pasar menurutnya sudah disebar untuk membantu update data pedagang. 

Baca juga: Imbas Kerumunan Pembeli BTS Meal, Satgas Covid-19 Kota Yogyakarta Panggil Pengelola McDonalds

"Ada beberapa pedagang belum mendaftar karena tidak memiliki HP. Maka dibantu petugas di masing-masing pasar untuk mendaftar," kata dia. 

Pelaksanaan vaksinasi di GOR Sleman berjalan cukup tertib. Sejumlah pedagang bisa mengantre ditempat yang sudah ditentukan. Petugas juga berjaga dan mengarahkan pedagang supaya tidak terjadi kerumunan. 

Bupati Sleman, Kustini Sri Purnomo yang meninjau lokasi mengatakan, kegiatan vaksinasi sebagai usaha pemerintah untuk memberikan rasa aman dan nyaman kepada pedagang dan pembeli saat melakukan transaksi jual beli. Pihaknya berharap, setelah pelaksanaan vaksinasi sukses dilakukan, dapat meningkatan pertumbuhan ekonomi di masa pandemi.  

"Meski sudah divaksin, namun para pedagang pasar tetap harus menerapkan dan mematuhi protokol kesehatan," kata Kustini. Dalam peninjauan dilokasi vaksinasi, Ia juga membagikan masker sebagai cara agar masyarakat tetap melaksanakan protokol kesehatan. (rif)

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved