Breaking News:

Cerita Fajar Saat Berseragam PSIM

Lemparan ke Dalam Tak Terlupa Nyaris ke Lawan

Kalau main (sepak bola) sama saudara sendiri, apalagi saudara kandung, pasti ada keinginan untuk satu sama lain mengusahakan agar bisa saling membantu

Penulis: Taufiq Syarifudin | Editor: Agus Wahyu
istimewa
Fajar Listiyantoro 

Ingin Buka Akademi
Fajar Listiyantoro pernah selama lima tahun berseragam tim berjuluk Super Elang Jawa, julukan PSS Sleman dan hanya sekitar dua tahun berseragam Laskar Mataram.

Sisanya, ia beredar di beberapa tim di luar DIY. Pria asli Kalasan itu mengawali karirnya sebagai pesepakbola profesional di PSS, ketika naik kasta ke Divisi Utama pada musim 1999/2000, dan mengakhiri karirnya di PSS 13 tahun sesudahnya.

Saat ini Ia mengaku, masih punya keinginan untuk berkontribusi dalam mengembangkan sepak bola di DIY. Rencananya Fajar ingin membuka sebuah akademi sepak bola.

Keinginannya itu akan diwujudkan setelah bisnis stabil lagi, karena pandemi Covid-19. Beberapa bisnis yang dirintis Fajar adalah travel, penyewaan mobil dan kuliner.

"Kalau sudah stabil bisnisnya, saya inginnya tetap di sepak bola, rencananya pengen buat akademi," katanya.

Terinspirasi dari Sang Kakak
Hampir semua saudara dari Fajar adalah pemain bola. Wajar saja, karena sejak dulu orang tuanya memang mengarahkan semua anaknya untuk bermain sepak bola. "Alasan bapak sebetulnya sederhana, beliau cuma pengen anak-anaknya kalau main tidak aneh-aneh, kan daripada sore-sore kemana tidak jelas, mending main bareng di lapangan," ujarnya.
Ketertarikan Fajar terhadap sepak bola sudah muncul ketika dirinya masih masih TK. Kala itu, ia kerap diajak kakak-kakaknya bermain sepak bola. Lapangan pertama tempat berlatih adalah Lapangan Raden Ronggo, Kalasan. Setiap sore ia ikut bermain dan memperhatikan kakak-kakaknya berlatih. "Saya juga jadi ikut tertarik gara-gara kakak saya waktu itu," katanya.
Keinginannya menjadi pelatih karena alasan kuatnya ingin tetap menjalankan kecintaanya bermain sepak bola. Apalagi, hidupnya pernah ditopang oleh sepak bola semasa dirinya masih berkiprah selama 13 tahun. Ia juga ingin membuktikan kepada anak-anak masa kini bahwa olahraga atau sepak bola dapat menjadi sebuah pekerjaan yang menghasilkan.
"Jadi pemain sepak bola itu bukan cuma sekadar mimpi, bisa diwujudkan dan menjadi sumber penghidupan," tutupnya. (tsf)

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved