Breaking News:

Cerita Fajar Saat Berseragam PSIM

Lemparan ke Dalam Tak Terlupa Nyaris ke Lawan

Kalau main (sepak bola) sama saudara sendiri, apalagi saudara kandung, pasti ada keinginan untuk satu sama lain mengusahakan agar bisa saling membantu

Penulis: Taufiq Syarifudin | Editor: Agus Wahyu
istimewa
Fajar Listiyantoro 

SORAK sorai penonton menggema di Stadion Mandala Krida, Yogyakarta, 15 tahun silam, tepatnya Rabu (18 /01/2006) silam. Kala itu PSIM Yogyakarta yang bermain di rumah sendiri sedang tertinggal 0-2 dari seterunya PSIS Semarang.

Dua gol PSIS kala itu itu dicatatkan oleh Ortiz dan Emanuel De Porras pada waktu yang berdekatan.
Sementara itu, Fajar Listiyantoro yang ketika itu berseragam PSIM merasa perlu melakukan sesuatu agar timnya dapat mengejar ketertinggalan.

Kesempatan itu datang menjelang akhir pertandingan, Fajar yang berposisi sebagai gelandang sayap bergegas mengambil bola yang keluar di lapangan sisi kanan. Dadanya berdegup kencang. Bola diambil dan diposisikan di atas kepala, bersiap untuk melakukan lemparan ke dalam.

Bola langsung dilempar ke arah gawang PSIS yang dijaga I Komang Putra. Rekannya, Jaime Sandoval yang ada di depan gawang mencoba menyundul, namun bola malah memantul ke arah kakak Fajar, Seto Nurdiyantoro yang berdiri bebas.

Gol! Bola berhasil dimasukan Seto dengan tendangan salto. Kedudukan berubah 1-2. Sayangnya, gol tersebut tidak mampu membuat PSIM keluar dari kekalahan. Namun momentum itu masih terngiang di kepala Fajar.

Kenangan yang tak bisa dilupakan, hingga detail saat ia melihat sang kakak membakar semagat pemain lain untuk bergegas kembali untuk mengejar ketertinggalan. "Kalau main (sepak bola) sama saudara sendiri, apalagi saudara kandung, pasti ada keinginan untuk satu sama lain mengusahakan agar bisa saling membantu agar tim meraih kemenangan. Saya tentu bangga bisa kasih umpan buat kakak saya saat itu (ketika melawan PSIS tahun 2016)," kata Fajar, Kamis (20/5/2021).

Tak banyak pemain yang memiliki kemampuan lemparan jauh seperti Fajar Listiyantoro. Ia bercerita bahwa kemampuan tersebut diajarkan oleh kakak keduanya.

Pasalnya, ia tertarik melihat lemparan yang bisa langsung mengarah ke depan gawang lawan, kiranya akan sangat berguna dalam sebuah pertandingan. "Waktu itu diajari Mas Aris kakak saya yang kedua, mulai dari teknik sama latihannya. Jadi saya diminta dia untuk menguatkan otot perut, lengan dan bahu, itu jadi modal penting," ujarnya.

Selain soal lemparan ke dalam yang berbuah umpan manis bagi kakaknya, Fajar punya kenangan buruk ketika masih bermain di usia belia. Tangannya harus mengalami patah tulang setelah melakukan duel udara di pertandingan Popwil tahun 1998.

"Kejadian itu saya dengar juga dari teman saya, kalau pas patah tulangnya itu kedengaran sampai tribun," kata Fajar.

Halaman
12
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved