Angka Kematian Akibat Covid-19 di Kulon Progo Terjadi Peningkatan Pada Mei 2021
Angka Kematian Akibat Covid-19 di Kulon Progo Terjadi Peningkatan Pada Mei 2021
Penulis: Sri Cahyani Putri | Editor: Hari Susmayanti
TRIBUNJOGJA.COM, KULON PROGO - Angka kematian akibat covid-19 di Kabupaten Kulon Progo dalam tiga bulan terakhir mengalami peningkatan.
Bahkan pada Mei ini, kenaikan angka kematian pasien covid-19 mengalami peningkatan cukup signifikan.
Pada Mei ini sudah tercatat ada 27 kasus kematian pasien covid-19.
Juru Bicara Penanganan Covid-19 Kabupaten Kulon Progo, Baning Rahayujati mengatakan angka kematian di Kulon Progo sekitar 1,9 persen sehingga perlu diwaspadai.
Peningkatan kasus kematian baik berstatus konfirmasi maupun probable sudah mulai terjadi sejak Maret 2021.
Dinas Kesehatan (Dinkes) Kulon Progo mencatat angka kematian akibat Covid-19 pada Maret sebanyak 12 orang, April 19 orang dan Mei 27 orang.
Dari 27 orang yang meninggal itu, rinciannya dari Kapanewon Pengasih 6 orang, Wates 4 orang, Galur 4 orang, Panjatan 3 orang, Nanggulan 2 orang, Kalibawang 2 orang, Kokap 2 orang, Sentolo 1 orang, Samigaluh 1 orang, Lendah 1 orang dan Temon 1 orang.
"Jadi memang kalau dilihat angka kematiannya cukup ada peningkatan. Sehingga kita tetap harus waspada," ucapnya, Minggu (23/5/2021).
Baca juga: Pakar Statistika UGM : Pengendalian Non Obat Efektif Tekan Laju Covid di Beberapa Negara
Baca juga: Kasus COVID-19 di DI Yogyakarta Cenderung Bertambah, Masyarakat Harus Tetap Patuhi Prokes
Sementara, perubahan kasus konfirmasi di Kulon Progo selama tiga bulan terakhir tidak ada peningkatan kasus yang cukup signifikan.
Pasien yang terkonfirmasi Covid-19 rata-rata 1.040 kasus per bulan. Kemudian hingga akhir Mei ini tercatat baru ada 718 kasus.
Serta angka kesembuhan yang mencapai 90,8 persen.
Terpisah Ketua Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Kabupaten Kulon Progo, Fajar Gegana berharap masyarakat melakukan pencegahan dengan menerapkan protokol kesehatan (prokes) 5M.
Yakni memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak, menghindari kerumunan dan mengurangi mobilitas. (Tribunjogja/Sri Cahyani Putri)