Breaking News:

Peneliti INDEF Nilai Barang Impor dengan Harga Murah Masih Menjadi Ancaman UMKM di Indonesia

”Misalnya batik dari China murah sekali bisa Rp 30 ribu sedangkan batik dari Indonesia dijual Rp 90 ribu sampai Rp 150 ribu. Distribusi logistik juga

Istimewa
Gojek dan Tokopedia resmi merger mengusung bendera GoTo 

Laporan Reporter Tribun Jogja, Ardhike Indah

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Salah satu hal yang patut diwaspadai oleh para pegiat Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) di Indonesia adalah banjirnya produk asing yang masuk ke dalam negeri.

Produk asing itu memiliki kualitas yang cukup dan dibanderol harga yang lebih murah daripada produk UMKM sendiri.

Kepala Center of Innovation and Digital Economy Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Nailul Huda mengatakan barang impor yang lebihi murah masih menjadi ancaman pelaku UMKM.

Baca juga: Merger GoTo Diharapkan Bantu UMKM Hadapi Serbuan Produk Luar Negeri dari Platform Asing

”Untuk impor masih akan jadi ancaman. Jadi kan konsumen e-Commerce atau digital itu price oriented consumer. Karakter seperti ini selalu incar barang murah,” jelasnya dalam keterangan resmi yang diterima Tribun Jogja, Jumat (21/5/2021).

Dia mengungkap, meski layanan cross broder sekarang sudah ditutup, tapi yang jadi masalah bukan itu.

Ada banyak penjual di Indonesia yang menjual barang impor. Mereka melakukan impor dari logistik biasa lantas dijual lagi dengan harga murah.

Seharusnya, kata dia, dari pemerintah terutama Kementerian Koperasi dan UMKM bisa memberikan solusi supaya UMKM lokal bisa bersaing dengan barang impor

Produk lokal kurang bisa bersaing dari sisi harga karena terkait dengan kapasitas produksi yang memengaruhi biaya produksi.

”Misalnya batik dari China murah sekali bisa Rp 30 ribu sedangkan batik dari Indonesia dijual Rp 90 ribu sampai Rp 150 ribu. Distribusi logistik juga termasuk. Biaya pengiriman dari China lebih murah ke Jakarta ketimbang biaya dari Sidoarjo ke Jakarta. Ini harus dituntaskan juga masalah biaya pengiriman yang tidak efisien,” tuturnya.

Maka, Nailul berharap terobosan merger Gojek dan Tokopedia menjadi GoTo bisa turut membantu menuntaskan persoalan ini.

Sehingga, UMKM bisa turut berpartisipasi di dalamnya sehingga bisa meningkatkan persaingan.

Baca juga: Per 1 Juni, Cek Saldo dan Tarik Tunai di Jaringan ATM Link Dikenai Biayai Transaksi, Ini Tarifnya

“Kolaborasi mereka (GoTo) itu pasti akan ada efisiensi, biaya akan dihemat. Ada layanan Gojek dan Tokopedia, satu fungsi dan satu tujuan,” harapnya.

Adanya merger juga bisa menekan biaya logistik menjadi lebih murah dan UMKM akan merasa sangat terbantu.

”Saya sih harapannya pelaku UMKM mendapatkan layanan finansial GoTo untuk bisa beralih dari masyarakat unbank menjadi bankable. Saya harap mereka juga bisa meningkatkan literasi keuangan dan inklusi keuangan secara umum,” ujarnya. (ard)

Penulis: Ardhike Indah
Editor: Kurniatul Hidayah
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved