Mutiara Ramadan Kerja Sama LDNU DIY
Tadarus Alquran di Bulan Ramadan
Pada bulan Ramadan, gairah umat Islam untuk bertilawah Alquran meningkat dibanding bulan-bulan lainnya.
Oleh: H Ujang Sihabudin MSI, Kasi Pengembangan SBI, Musabaqah Alquran dan Alhadis Kanwil Kemenag DIY, Ketua PW JQH NU DIY
TRIBUNJOGJA.COM - Pada bulan Ramadan, gairah umat Islam untuk bertilawah Alquran meningkat dibanding bulan-bulan lainnya, baik itu dilakukan secara individu maupun kelompok (berjemaah).
Semangat tilawah itu diekspresikan dalam bentuk tadarus bulan Ramadan sebagai syiar Alquran. Sangat terasa sekali gema tilawah dilakukan di rumah, masjid, mushalla bahkan di kantor-kantor. Karena mereka meyakini bulan Ramadan adalah bulan Alquran, bulan di mana Kitab Suci ini diturunkan kepada Baginda Nabi Muhammad saw. untuk seluruh umat manusia.
Namun, bulan Ramadan kali ini ada yang menarik. Kegiatan tadarus Alquran ada yang dilakukan dengan cara virtual via zoom.
Kalau dulu semua masih menggunakan model klasik dimana peserta tadarus semua kumpul dalam satu majelis. Dihadiri salah satu orang yang ahli agar bisa membimbing dan memantau bacaan peserta tadarus yang membaca secara bergantian.
Dalam tadarus virtual pun sama, mereka tetap menghadirkan seorang pembimbing yang mengoreksi setiap bacaan peserta tadarus. Demikian ini karena dalam membaca Alquran harus sesuai dengan tuntunan ilmunya, misalnya, Ilmu Tajwid, makharijul huruf (tempat keluarnya huruf), dan shifatul huruf(sifat-sifat huruf), serta qira’at gharibah (bacaan-bacaan asing).
Secara garis besar, tingkatan dalam membaca Alquran terutama di bulan Ramadan ini ada empat tingkatan, sebagaimana pendapat para Ahli Qira’at: Pertama, at-tahqiq atau mereka yang membaca Alquran dengan tempo bacaan yang paling lambat.
Menurut ulama tajwid, tempo bacaan ini diperdengarkan/diberlakukan sebagai metode dalam proses belajar-mengajar. Sehingga diharapkan murid dapat melihat dan mendengarkan cara guru membaca huruf demi huruf secara tepat sesuai dengan makhraj, sifat, dan hukum-hukumnya, seperti panjang, samar, sengau, dan lainnya.
Kedua, at-tartil, atau mereka yang membaca Alquran dengan bacaan pelan dan jelas. Mengeluarkan setiap huruf, makhraj-nya, dan menerapkan sifat-sifat-nya, sekaligus mentadabburi maknanya. Ketiga, al-hadr, atau mereka yang membaca Alquran dengan bacaan cepat tapi tetap menjaga hukum tajwidnya.
Keempat, at-tadwir, atau mereka yang membaca Alquran dengan bacaan yang sedang, tidak terlalu cepat atau tidak terlalu lambat, tapi pertengahan antara al-hadr dan at-tartil.
Ketika membaca ayat-ayat yang termasuk kategori gharib (bacaan asing), sudah barang tentu ini harus betul-betul diperhatikan agar tidak salah dalam membaca. Sebab membaca Alquran harus sesuai dengan kaidah bacaan yang dicontohkan Nabi Muhammad saw.
Apabila belum bisa, maka harus belajar pada ahlinya, karena ada ayat-ayat yang mesti melihat langsung kepada syekh atau guru bagaimana cara membacanya.
Dengan ungkapan lain, seorang murid harus talaqqy (membacanya secara lisan) dan musyafahah (bertatap muka). Misalnya pada bacaan saktah, imalah, isymam, tashil, raum, naql, dan nun wiqayah. Suatu kekhususan bacaan qira’at‘Ashim melalui jalur periwayatan Hafs dengan Thariqah Asy-Syathibiyyah.
Riwayat Imam Hafs inilah yang dijadikan standar bacaan umat Islam sedunia. Karena karakteristik model bacaannya paling mudah diikuti oleh orang Arab dan non Arab (‘ajam). Termasuk kita orang Indonesia, dan menjadi bacaan standar dalam forum Musabaqah Tilawah al-Quran (MTQ) Nasional maupun Internasional.
Imam Hafs bin Sulaiman bin Al-Mughirah bin Abi Dawud al-Asadi al-kufi yang lahir tahun 90 H dan wafat tahun 180 H di Iraq. Beliau menerima bacaan dari Imam ‘Ashim dari Abu Abdirrahman Habib As-Sulaiman, dari Ali bin Abi Thalib, Ubay bin Ka’ab, Zaid bin Tsabit, Utsman bin Afan, dan Abdullah bin Mas’ud. Mereka semua menerima bacaan dari Rasulullah saw.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/mutiara-ujang.jpg)