Mutiara Ramadan Kerja Sama LDNU DIY

Berakhlak Kepada Masyarakat

Sebuah sistem juga akan berjalan dengan baik bila diisi oleh orang-orang yang memiliki akhlak yang baik.

Editor: ribut raharjo
Istimewa
HM Yazid Afandi, Ketua Tanfidziyah PCNU Kota Yogyakarta 

Oleh: HM Yazid Afandi, Ketua Tanfidziyah PCNU Kota Yogyakarta

TRIBUNJOGJA.COM - Akhlak merupakan hal yang sangat fundamental dalam Islam. Misi utama Rasulullah saw. diutus oleh Allah swt. adalah untuk menyempurnakan akhlak. Innamâ bu‘itstu li utammima makârimal akhlâq. Kemuliaan orang ditentukan oleh kemuliaan akhlaknya.

Sebuah sistem juga akan berjalan dengan baik bila diisi oleh orang-orang yang memiliki akhlak yang baik.

Jabatan, status sosial, kekayaan, popularitas tak menjamin sang pemilik lantas terhormat bila dia memiliki perangai buruk, misalnya, gemar merendahkan orang lain, korupsi, menyakiti, berbuat sewenang-wenang, dan lain-lain.

Demikian pula, secanggih apa pun sistem yang dibangun, tak ada apa-apanya jika orang-orang di dalamnya hanya pandai memanipulasi, tak bertanggung jawab, dan sejenisnya.

Ada sebuah hadis Nabi saw. yang berbunyi: “Bertakwalah kamu kepada Allah di mana pun berada. Iringilah perbuatan buruk yang sudah dilakukan dengan perbuatan baik yang dapat menghapusnya. Dan berakhlaklah kepada orang-orang dengan akhlak yang baik.” (HR at-Tirmidzi).Hadis ini menerangkan tentang kewajiban seseorang untuk memedulikan akhlak sosial.

Dalam hadis tersebut ada penggalan kalimat “wa khaliqinnasa bi khuluqin hasanin (Dan berakhlaklah kepada orang-orang dengan akhlak yang baik)”. Perintah Nabi tersebut secara tersirat menandakan bahwa manusia sesungguhnya potensial berbuat buruk kepada sesamanya. Karena memang sejatinya manusia punya dua kecenderungan akhlak, yakni mahmudah (terpuji) dan madzmumah (tercela).

Manusia berperilaku tercela ketika nafsu lebih menguasai daripada hati nuraninya. Egoisme atau kepentingan untuk memuaskan diri sendiri atau golongan sering kali membuat kita lupa diri atas hak-hak orang lain, meremehkan orang lain, memojokkan orang lain, bahkan menzalimi orang lain. Maka, Nabi menganjurkan agar manusia mengendalikan diri dengan baik, atau biasa kita kenal memiliki akhlak yang baik (husnul khuluq).

Dalam kitab Ayyuhal Walad Imam al-Ghazali memberikan gambaran bahwa husnul khuluq (berakhlak yang baik) adalah saat engkau tidak menuntut orang lain (masyarakat) sesuai kehendakmu. Namun hendaknya engkau menyesuaikan dirimu sesuai kehendak mereka selama tidak bertentangan dengan syariat.

Inti dari definisi husnul khuluq menurut Imam al-Ghazali ini adalah penghargaan yang tinggi seseorang kepada kehendak masyarakat selama kehendak itu tidak bertentangan dengan syariat Islam.

Pemahaman, kebiasaan, dan kebudayaan kita tidak harus selalu sejalan dengan pemahaman, kebiasaan, dan kebudayaan orang lain. Di sinilah pentingnya seseorang “mengorbankan” egoisme diri untuk kehidupan yang harmonis di masyarakat.

Contoh konkret dari praktik pesan tersebut adalah cara berdakwah para ulama terdahulu dalam membumikan Islam di bumi Nusantara. Wali Songo yang mempunyai wawasan fikih dan tasawuf secara mendalam tak serta merta melarang tradisi dan kebudayaan yang berkembang di Nusantara.

Tentu mereka sadar ada beberapa aspek yang tak sesuai dengan syariat, tapi toh dengan bijaksana mereka tetap menghormati nilai-nilai lokal, mengikutinya, lalu mengisinya dengan nilai-nilai Islam secara bertahap.

Mereka merupakan ulama-ulama yang menjunjung tinggi prinsip memanusiakan manusia, menghargai proses, rendah hati, dan bergaul bersama masyarakat dengan sudut pandang kasih sayang. Padahal, dengan kapasitas, status sosial, bahkan kekuasaan yang dimiliki, mereka waktu itu bisa saja memaksa penduduk pribumi untuk memeluk ajaran Islam dan meninggalkan seluruh tradisi dan adat istiadat lokal. Tapi itu tidak dilakukan, karena memang menyalahi ketentuan wa khaliqinnasa bi khuluqin hasanin.

Senada dengan Imam al-Ghazali, salah seorang ulama Indonesia yang lama hidup di Arab, Syekh Nawawi al-Bantani mengatakan,“Berakhlak yang baik adalah mengikuti konsensus/tradisi dalam segala hal selama bukan kemaksiatan.”

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved