Mutiara Ramadan Kerja Sama LDNU DIY
Ramadan Bulan Literasi
Berkat Alquran, masyarakat jahiliyah Arab bertransformasi menjadi masyarakat berperadaban.
Oleh: Dr Muhajir MAg, Wakil Sekretaris PWNU DIY, Dekan FIP UNU Yogyakarta
TRIBUNJOGJA.COM - Alif lam ra, (inilah) suatu Kitab yang ayat-ayatnya disusun dengan rapi (indah) serta dijelaskan secara terperinci yang diturunkan dari sisi (Allah) Yang Maha Bijaksana lagi Maha Tahu (QS. Hud:1)
Salah satu keistimewaan bulan suci Ramadan adalah diturunkannya Alquran. Kitab ini tidak saja kalamullah yang membacanya bernilai ibadah, tetapi Alquran juga kitabullah yang di dalamnya terkandung isyarat-isyarat ilmu pengetahuan.
Berkat Alquran, masyarakat jahiliyah Arab bertransformasi menjadi masyarakat berperadaban. Salah satu revolusi kebudayaan akibat turunnya Alquran di bulan Ramadan adalah perubahan budaya transmisi pengetahuan, dari budaya verbal-oral menuju budaya menulis; dari budaya mendengar menuju budaya membaca.
Surat al-Alaq ayat 1-5 yang turun pertama kali merupakan seruan akan pentignya budaya membaca dan menulis sekaligus.
Bangsa Arab yang belum terbiasa dengan tulis-menulis menjadi tersadarkan tentang pentingnya membaca dan menulis. Menurut Ibn Katsir, turunnya surat al-Alaq tidak hanya dimaknai sebagai awal penobatan Muhammad sebagai seorang Nabi dan Rasul, tetapi juga sebagai isyarat pentingnya ilmu pengetahuan (Tafsir Ibnu Katsir V/236).
Muhammad Thahir Ibnu Asyur dalam kitab tafsirnya al-Tahrir wa al-Tanwir menjelaskan bahwa kata iqra`pada ayat pertama yang diturunkan kepada Nabi Muhammad mengindikasikan bahwa Muhammad dan para pengikutinya adalah kaum pembaca dan penulis, meskipun dua tradisi keilmuan tersebut belum begitu populer saat itu.
Prediksi bahwa umat Nabi Muhammad adalah umat pembaca dan penulis mendapatkan konfirmasinya pada generasi awal Islam. Puncaknya pada abad pertengahan, dimana muncul para intelektual Muslim yang tidak saja gandrung dengan ilmu-ilmu agama, tetapi juga “kranjingan” dengan ilmu pengetahuan.
Sebut saja misalnya al-Kindi, Ibn Rusy, Ibnu Sina adalah generasi Islam yang sadar akan pentingnya literasi. Lebih dari itu di tangan para saintis Muslim tersebut telah melahirkan teori-teori “baru” baik ilmu pengetahuan (Mahdi Nakosteen; History of Islamic Origins of Western Education, 1964).
Seruan Alquran tentang pentingnya literasi paling tidak bisa dijumpai dalam beberapa ayat dan surat sebagai berikut; Pertama, surat al-Taubah: 122,“Tidak sepatutnya bagi mukmin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga diri”.
Menurut Muhammad Ahmad Dahman, ayat tersebut memberikan penjelasan bahwa membentuk masyarakat berpengetahuan (knwoledge society) adalah bagian dari jihad ilmi yang lebih menguras energi ketimbang jihad lain seperti perang.
Lebih lanjut Ahmad Dahwan mengatakan bahwa kemajuan sebuah bangsa dan umat terletak pada keseriusan mereka dalam melaksanakan jihad literasi.
Ada tiga point yang terkandung dalam surat tersebut:1) kewajiban untuk mendorong lahirnya kaum terdidik; 2) kewajiban transmisi pengetahuan; 3) kesetiaan masyarakat dalam beregang teguh pada ilmu pengetahuan.
Kedua, surat al-Zumar: 9,“Katakanlah: adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?”. Dalam ayat tersebut, meskipun diawali dengan kata tanya “hal” (apakah), akan tetapi tidak membutuhkan jawaban atau konfirmasi.Karena kata tanya yang digunakan pada ayat tersebut berfungsi untuk penegasian (istifhaminkari) atas ketidaksamaan antara orang-orang berpengetahuan dengan yang tidak berpengetahuan. Menurut Ibnu Asyur, ayat tersebut memberi makna pada tiga (3) level: 1) level fungsi yaitu fungsi pengetahuan adalah cahaya bagi kehidupan; 2) level peran, di mana peran para cendekiawan adalah memberi obor penerang bagi masyarakat; 3) level status.
Pada level ini akan tampak sikap kemandirian orang-orang yang berpengetahuan, karena mereka bisa mengakses seluas-luasnya ilmu Allah baik terkait alam semesta (makhluq) maupun Sang Pencipta (Khaliq). Ketidaksamaan antara ilmuan dengan orang awam dipertegas lagi pada lafadz penutup surat tersebut “Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran”.
Ketiga, surat al-Mujadalah: 11, “Allah akan meninggikan orang-orang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat”. Ilmu pengetahuan tidak saja menjadikan manusia memiliki status lebih tinggi di antara manusia lain.Lebih dari itu, ilmu pengetahuan jugalah yang menjadikan derajat manusia lebih tinggi di antara makhluk Allah yang lain, bahkan Malaikat sekalipun. Sebagaimana tergambar dalam cerita sujudnya para Malaikat di depan Nabi Adam.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/muhajir-mutiara.jpg)