Farah Parfum Kenalkan Tiga Standar Keamanan Dupe Perfume
Parfum dengan karakter wewangian dari Inggris dan Perancis menjadi salah satu yang paling digemari masyarakat di Indonesia.
Penulis: Amalia Nurul F | Editor: Kurniatul Hidayah
TRIBUNJOGJA.COM - Parfum dengan karakter wewangian dari Inggris dan Perancis menjadi salah satu yang paling digemari masyarakat di Indonesia.
Wewangian jenis sitrus dari merek parfum premium seperti Jo Malone, Chanel, atau Kenzo tercatat paling digemari masyarakat Indonesia.
Namun, kendala harga menjadi perhatian utama dari mereka untuk dapat memiliki parfum tersebut.
Sehingga, saat ini di pasaran banyak dikenal ‘dupe perfume’ dimana jenis parfum ini memiliki wewangian yang sama dengan berbagai merek parfum premium.
Baca juga: Tingkat Penghunian Kamar (TPK) Hotel di DIY Februari 2021 Naik 1,96 Poin Dibanding Januari 2021
Tetapi terkadang bahan baku yang digunakan dalam parfum ini tidak terstandar dan membahayakan penggunanya.
“Dupe perfume atau Inspired Perfume diracik dengan bahan baku yang hampir mirip dengan parfum original, termasuk bahan baku kimia serta wewangian yang digunakan," ujar Rudi Gunawan, Sales Manager Farah Parfum dalam rilisnya.
"Hanya saja masih banyak produsen yang menggunakan bahan yang dilarang oleh BPOM, sebagai upaya untuk memberikan harga murah kepada pecinta parfum. Metanol adalah yang paling umum ditemukan di pasaran sebagai bahan berbahaya yang dicampurkan pada pelarut parfum," jelasnya.
Saat ini Inspired Perfume telah menjadi alternatif utama para pecinta parfum untuk mendukung aktivitas sehari-hari.
Sebagai salah satu produsen dupe parfum lokal pertama di Indonesia yang bersertifikat BPOM, Farah Parfum memberikan tiga tips dasar bagi pecinta parfum di Indonesia untuk dapat mengenali standar keamanan dalam menggunakan Dupe Parfume:
Baca juga: Jelang Lebaran, Disperindag Gunungkidul Ajukan Tambahan Kuota Gas LPG 3 Kg
1. Produk Bebas Metanol
Metanol biasa digunakan sebagai pelarut pada campuran parfum berharga murah dan menjadi komposisi berbahaya paling banyak ditemukan pada parfum 'murah' yang dijual tanpa sertifikasi BPOM.
Dilansir dari penelitian Iswara et.al tentang kandungan bahan pada parfum yang dimuat di Indonesian Journal of Chemical Researchmenemukan bahwa masih ada ditemukan kandungan metanoll pada parfum yang beredar di masyarakat.
Penggunaan parfum mengandung metanol yang berulang-ulang dapat menyebabkan keracunan sistematik, gangguan otak, gangguan penglihatan dan kebutaan.
Lebih lanjut, bahaya untuk kulit jika terjadi kontak secara langsung dapat menyebabkan efek toksik pada kulit, seperti menyebabkan kemerahan pada kulit atau dermatitis and efek seperti terbakar.
2. Dikemas dalam Botol Kaca
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/produk-farah-parum-ist.jpg)