KISAH HARI-HARI AKHIR ADOLF HITLER : Kabar Pengkhianatan Himmler Mengguncang Seisi Bunker

Menurut Hanna Reistch, wajah Hitler berubah drastis menjadi merah padam, mengkerut, lalu menyembur sumpah serapah

Tayang:
Penulis: Setya Krisna Sumargo | Editor: Mona Kriesdinar
telegraph
Hari-hari terakhir menjelang kejatuhan Adolf Hitler 

Dalam dokumen, Hitler hanya menuliskan nama ayahnya saja.

Sementara Eva menuliskan nama, tadinya hendak menulis lengkap Eva Braun, tapi terlihat hanya dicoretkan Eva B, dan huru B dicoret, dilanjutkan menulis nama Hitler. Jadinya Eva Hitler, kelahiran Braun. Borman dan Goebbels meneken dokumen sebagai saksi.

Upacara formal dilanjutkan makan kecil di ruangan Hitler. Ada Borman, Goebbels dan istri, beberapa jenderal seperti Krebs dan Burgdorf, serta ada Fraulein Manzially sebagai koki pribadi Adolf Hitler. Sejenak melupakan ketegangan, mereka berbagi kisah jaya masa lalu.

Tapi itu tak berlangsung lama. Pertemuan berakhir, keputusasaan kembali datang.

Sebagian segera menarik diri dari ruangan, mencucurkan air mata sepuas-puasnya di ruang masing-masing. Hitler masuk ke ruang pribadinya.

Ia memanggil sekretaris pribadinya, Frau Gertrude Yunge. Hitler mendiktekan keinginan terakhirnya dan juga testamen panjangnya tentang Nazi, tentang Jerman, dan tentang masa depan Kerajaan Ketiga. Hitler masih hidup dalam realitas dunianya sendiri.

Testamen itu masih utuh dan melewati perang hingga sampai ke tangan pasukan Sekutu. Dari testamen itu benar-benar tergambar sosok Adolf Hitler, yang mengulang teori-teorinya yang ia tulis di buku Mein Kampf.

Pukul 04.00 hari itu, sesudah selesai mendiktekan testamen, Hitler memanggil Jenderal Krebs, Burgdorf, Goebbels, dan Borman, agar mereka ikut menandatangani dokumen testamen itu. Mereka juga melihat wasiat pribadinya, yang ingin bersama Eva Braun menyongsong kematian menurut cara mereka sendiri.

Harta pribadinya diserahkan ke partai atau Negara, dan sebagian untuk kerabatnya yang maish hidup. Dari situ segera terlihat betapa Hitler tidak memiliki harta banyak. Ia tidak seperti Goering, yang menimbun harta kekayaan selama berkuasa.

Hitler menyampaikan ia sudah memutuskan untuk mati bersama istrinya, sebelum Tentara Merah mendatangi bunker dan menangkapnya hidup-hidup.

Hitler berpesan agar sesudah mati, tubuhnya dan istrinya agar dibakar. Perintah lain, ia meminta Goebbels dan Borman diminta meninggalkan kota yang sekarat itu.

Sesudah semua pesan disampaikan, dalam lelah, Hitler pergi ke peraduan saat fajar menyingsing. Gumpalan asap kebakaran dan bekas ledakan bom memenuhi langit Berlin.

Gedung-gedung runtuh, suara derak benda berguguran datang silih berganti. Borman yang paling berniat meninggalkan bunker, mencoba peruntungan lolos dari hari akhir.

Sementara Goebbels sudah tidak ada keinginan lagi meninggalkan sang Fuhrer, orang yang memberinya kesempatan naik ke kekuasaan hingga setinggi itu.

Goebbels memutuskan tetap di bunker, dan mengikuti jejak Hitler. Ia akan menyongsong ajal yang dianggapnya kematian suci, bersama istri dan enam anaknya yang masih kecil-kecil.

Goebbels membuat surat wasiat, yang melengkapi testamen politik Fuhrer. Hari itu Minggu, 29 April 1945.

Tentara Merah sudah berada di ujung gang masuk menuju area bunker di Istana Berlin.(Tribunjogja.com/xna)

==

*) Cerita disarikan dari buku “The Last Days of Third Reich : William Shirer (1960).

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 3/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved