Breaking News:

KISAH HARI-HARI AKHIR ADOLF HITLER: Sang Fuhrer Menjerit di Bunker Saking Marahnya

Hari ini 76 tahun lalu, tepatnya 22 April 1945, kemarahan Adolf Hitler meledak. Sulit dilukiskan bagaimana ekspresi persis Sang Fuhrer.

IST
Adolf Hitler 

Termasuk mengancam Jenderal Koehler, Wakil Menteri AU yg bertahan di bunker.

Sepanjang hari selama 21 April, Hitler gelisah menunggu realisasi perintahnya.

Sang Fuhrer semakin tampak hidup dalam realitasnya sendiri.

Perintahnya itu tidak pernah diwujudkan oleh Steiner. Tidak ada pasukan yg bergerak, tidak ada serangan umum balasan.

Bahkan, tidak ada yg pernah mencoba melakukan serangan itu. Gagasan indah itu hanya ada di angan-angan pemimpin Kerajaan Ketiga, di tengah kehancuran impiannya.

Maka, ketika Adolf Hitler dipaksa melihat kenyataan, tak ada satupun yang bergerak, dia seperti disambar petir.

Linglung, menggeram, gelisah, marah-marah, Hitler benar-benar menampakkan sosok tak berdaya. Ia seperti banteng terluka mencari musuh, tapi tiada lawan.

Ia menuduh semua orang telah meninggalkannya. Semua di mata Sang Fuhrer berkhianat, pendusta, korupsi, dan pengecut.

Menolak pergi ke Obersaltzberg, Hitler bertekad memimpin perlawanan dan pertahanan kota Berlin. Ia akan menyambut ajalnya tetap di tempat itu.

Doenitz, Himler, Ribbentrop menelepon Hitler, agar bersedia dipindahkan ke Jerman Selatan. Tapi Sang Fuhrer sudah tak mempercayai mereka lagi.

Hitler memanggil sekretarisnya, mendiktekan pengumuman yang akan disiarkan di radio Nazi.

Fuehrer, demikian pengumuman itu, akan tetap tinggal di Berlin dan akan mempertahankan kota itu sampai titik darah penghabisan.

Sesudah itu, Hitler memanggil kepala propagandanya, Joseph Goebbels berikut istri dan 6 anaknya yang masih kecil-kecil, agar tinggal di bunker.

Rumah Goebbels sudah hancur dibom pasukan Sekutu.

Hitler sangat percaya Goebbels masih setia, dan akan bersamanya hingga ujung nasib.

Sesudah itu Hitler meminta semua surat dan dokumen penting dikumpulkan, untuk dibakar di halaman di atas bunker.

Fuhrer lantas memanggil Jenderal Keitel dan Jodl, memberi mereka perintah agar berangkat ke front selatan menemui pasukannya.
Keitel protes karena Hitler tetap di Berlin.

Begitu juga Jodl yang terus mendesak Hitler segera mengungsi ke tempat tetirahnya di pegunungan.

Sebab, sebagai tentara tulen, ia tidak mau pergi tanpa panglima tertingginya di saat genting seperti itu. Tapi Hitler memaksa keduanya segera berangkat.

Hitler meminta keduanya berkoordinasi dengan Herman Goering, untuk urusan langkah politik dan militer selanjutnya.

Tak ada yang bisa dilakukan lagi, Jodl dan Keitel serta Jenderal Koller meninggalkan bunker, guna mengorganisasi pasukannya yang mulai keteteran di mana-mana.

Front utara sudah jebol. Tentara Rusia dan barisan tanknya sudah memasuki tepi utara kota Berlin.

Kepala Staf Angkatan Perang Jerman mendirikan posko di Kremptniz, kota kecil di antara Postdam dan Berlin.

Di tempat itu Koller dan Jodl bertemu. Terungkap, Hitler ternyata di bunker sempat berkata, jika harus berunding untuk perdamaian, ia mempercayai Goering mampu melakukan.

Goering saat itu sudah berada di Munich (Munchen). Hari berikutnya akan jadi masa menentukan, ke mana arah rezim Nazi Jerman? (Tribunjogja.com/xna)

*) Cerita disarikan dari buku ‘The Last Days of Third Reich : William Shirer (1960)”

Penulis: Setya Krisna Sumargo
Editor: Iwan Al Khasni
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved