Wawancara Eksklusif
Wawancara Eksklusif: Jadi Bupati Perempuan Pertama di Sleman, Kustini Sri Purnomo Teladani Kartini
Tribun Jogja berkesempatan berbincang dan mengenal lebih dekat dengan Kustini Sri Purnomo. Berikut petikan wawancaranya.
Penulis: Ahmad Syarifudin | Editor: Kurniatul Hidayah
TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN - Kustini Sri Purnomo (KSP) tercatat sebagai bupati perempuan pertama di Bumi Sembada.
Kustini bersama wakilnya, Danang Maharsa, memperoleh suara terbanyak dalam perhelatan pemilihan kepala daerah (Pilkada) Sleman 2020.
Ia dilantik menjadi Bupati Sleman, menggantikan kepemimpinan Sri Purnomo, yang juga suaminya.
Tribun Jogja berkesempatan berbincang dan mengenal lebih dekat dengan Kustini Sri Purnomo. Berikut petikan wawancaranya.
Baca juga: Kabar LIGA ITALIA, Juventus Belum Pastikan Andrea Agnelli Mundur dari Jabatannya
Anda perempuan, kenapa tergugah terjun ke politik, dan menjadi bupati?
Sebenarnya menjadi bupati bukan cita-cita saya. Tapi, lebih karena peta politik berubah. Saya 'dilamar' partai politik untuk maju dengan berdasarkan survei internal. Di situ disebutkan, perempuan di Sleman yang dikenal adalah Bu Sri Purnomo.
Saat dilamar, saya tidak langsung mau. Karena saya berpikir, menjadi bupati tidak mudah. Tantangannya banyak sekali. Selama ini, Sleman dipegang oleh Sri Purnomo sudah bagus. Saya berpikir, setelah dukungan parpol, dari organisasi masyarakat juga datang. Saya akhirnya mau (maju).
Pertimbangan mendasar?
Anak saya sudah besar semua. Saya ingin mengamalkan ilmu saya. Saya diminta tiga kali, dan didukung ormas. Awalnya saya tidak mau, karena berat tanggung jawabnya. Tapi saya basic-nya UIN, perbandingan agama. Orang perbandingan agama itu menerima perbedaan. Apa pun orang di sekitarnya. Kita lebih demokratis. Basic saya itu, untuk menerima siapapun.
Selepas bapak (Sri Purnomo) selesai bupati, rencana awalnya saya siap-siap ingin berwiraswasta, dan bapak jadi petani. Tapi, akhirnya saya Salat Istikharah, saya tidak tahu, spontan, tahu-tahu saya cari ijazah, tak niati maju (bupati) untuk ibadah.
Begini, nasihat dosen saya, bupati memiliki kebijakan untuk mengentaskan kemiskinan. Nanti, sebagai bupati kamu bisa membuat kebijakan yang dapat mengentaskan kemiskinan, dan itu akan menjadi amal ibadah kamu.
Saya tergugah, dengan kebijakan itu akan dapat menjadi ladang ibadah, untuk pahala saya di akhirat.
Saya yakin, meskipun perempuan, saya akan mampu memimpin Sleman, yang Alhamdulillah, birokrasinya sudah bagus. Tinggal menuangkan dalam kebijakan. Maka saya putuskan mau maju dan dengan tanggungjawab.
Sebagai pemimpin perempuan, apakah Anda pernah merasa minder?
Namanya manusia ada. Terutama (dulu) saat debat, terus terang saya mendapatkan banyak bimbingan. Saya juga memiliki pengalaman organisasi saat mahasiswi, dan sebagai ketua Tim Penggerak PKK. Jadi saya merasa saya memiliki kemampuan.
Saya juga mendapat kepercayaan dan dukungan, saya harus bisa. Jadi, antara ketakutan dan dorongan untuk berani lebih kuat dorongan untuk berani.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/bupati-sleman-kustini-sri-purnomo-we.jpg)